Thursday, March 23, 2017

Eliza (11) Semalam bersama Cie Steffany

Eliza (11) Semalam bersama Cie Steffany

Ceritadewasaterbaru666.blogspot.com - Jam 15:15. Aku berpikir sejenak, berarti tadi itu aku dibantai sampai hampir 2 jam di gubuk tukang tambal ban itu. Aku sudah berada di depan pintu rumahku sekarang. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi rumah, aku mengambil nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatan. Kemudian aku turun dari mobilku, dan aku sudah membayangkan akan segera tidur pulas karena capai yang amat sangat ini.


Masih terasa sekali, sisa rasa sakit bercampur ngilu pada selangkanganku ketika aku melangkahkan kakiku. Kedua kakiku ini juga masih lemas dan sedikit gemetar. Tapi aku harus segera mandi, membersihkan badanku sebersih bersihnya, lalu tidur mengistirahatkan tubuhku yang sudah hancur hancuran diperkosa oleh 7 orang tadi.

Suasana rumah sepi sekali, dan ketika aku terus melangkah sampai ke depan pintu kamarku, aku tertegun melihat sepasang sepatu, sepatunya Cie Stefanny.

Aduh, aku baru ingat kalau harusnya aku les sejak jam satu siang tadi. Aku segera masuk ke dalam kamarku. Tak ada siapa siapa di dalam sini, tapi pintu kamar mandiku yang tertutup dengan suara gemericik air dari dalam sana melenyapkan kebingunganku. Aku menaruh tas sekolahku di atas meja, dan duduk di kursi menunggu Cie Stefanny keluar dari kamar mandi.

Aku memandangi ranjangku agak lama, dan aku mulai menyadari keadaan sprei ranjangku sepintas memang rapi, tapi kalau diperhatikan permukaannya terlalu banyak lipatan tak beraturan seperti sprei yang belum disetrika saja.

Apakah karena Cie Stefanny tadi sempat tiduran di ranjangku? Mungkin saja, karena gorden kamarku sekarang ini tertutup. Tapi kalaupun iya, seharusnya sprei itu tidak sampai lecek di sana sini seperti ini.

‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, dan Cie Stefanny yang keluar dari sana sedikit terkejut melihatku.

“Hai… sudah pulang ya Eliza”, Cie Stefanny menyapaku.

“Iya, aduh sori ya Cie, tadi…”, kata kataku terhenti ketika aku terlalu tertarik untuk memperhatikan keadaan Cie Stefanny.

Wajahnya merah segar walaupun ada kesan sedikit capek ditambah nafasnya yang ngos ngosan. Bajunya agak kusut, semua kancing baju itu juga tidak terpasang, memperlihatkan kaus merah muda di dalamnya yang membalut ketat tubuh Cie Stefanny. Rambutnya yang panjang dan biasanya selalu indah tersisir rapi itu kini terlihat sedikit awut awutan. Sungguhpun begitu, Cie Stefanny masih tetap terlihat begitu cantik.

“Eliza?”, tanya Cie Stefanny sambil memandangiku, membuatku tersadar kalau aku sudah terlalu lama memperhatikannya.

“Oh… itu Cie, anu… Cie Cie cantik sekali”, aku tergagap panik dan berusaha menjawab apa saja.

Sadar dengan apa yang baru saja kuucapkan, aku jadi malu sekali. Tapi belum sempat aku bereaksi lebih lanjut, tiba tiba aku sudah berada dalam pelukan Cie Stefanny yang melingkarkan tangannya di belakang bahuku.

“Eliza… thanks ya udah bilang Cie Cie cantik…”, kata Cie Stefanny perlahan.

Hangat dan nyaman sekali pelukan ini, membuatku memejamkan mata dan balas memeluk Cie Stefanny begitu saja. Kulingkarkan tanganku pada pinggang guru lesku yang hanya sedikit lebih tinggi dariku ini, dan kusandarkan kepalaku pada pundaknya.

Tiba tiba aku menggigit bibirku sendiri ketika kurasakan rangsangan pada kedua puting payudaraku.

Oh, aku baru sadar, sekarang ini aku tidak mengenakan bra. Berpelukan seperti ini, kurasakan kedua payudara kami saling menekan. Akibatnya, tekanan ini langsung mengenai kedua putingku yang tak terlindung bra ini, dan hal ini langsung menyengat perasaanku.

“Mmmh… Cie…”, tanpa sadar aku merintih ketika pelukan Cie Stefanny itu makin erat.

“Kenapa Eliza…”, tanya Cie Stefanny pelan sambil melonggarkan pelukannya, dan sekarang kami berdua saling beradu pandang.

Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Bertatapan seperti ini dengan Cie Stefanny, mendadak gairahku kembali meninggi. Sesaat kemudian aku sudah menerkam Cie Stefanny yang menjerit kecil karena terkejut. Berikutnya aku menjatuhkan dan menidih tubuh mungil guru lesku ini di atas ranjangku.

https://goo.gl/sZKm82 

Entah dapat kekuatan dari mana, kini aku sudah berhasil mencengkram kedua pergelangan tangan Cie Stefanny dan menekankan keduanya di atas ranjangku.

“Aduh… Eliza… kamu kenapa mmphhh…”, kata kata Cie Stefanny terputus saat aku memagut bibirnya yang memakai lipgloss itu dengan sepenuh hatiku.

Aku merasakan Cie Stefanny mencoba meronta, tapi aku bertekad tak akan melepaskannya. Kedua telapak kakiku kukaitkan pada kedua pergelangan kaki Cie Stefanny, dan aku melepaskan pagutanku dari bibirnya sesaat untuk kemudian mencumbui wajah guru lesku yang cantik ini.

“Ohh… Eliza…”, Cie Stefanny merintih.

Akhirnya tak ada lagi perlawanan yang dilakukan oleh Cie Stefanny. Ia menatapku dengan sayu, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Aku kembali memagut bibir Cie Sefanny, dan sekali ini ia sudah mau membalas ciumanku ini.

Maka kulepaskan cengkraman tanganku dan kaitan kakiku dari Cie Stefanny. Setelah beberapa saat aku mencumbui wajah guru lesku ini dengan penuh gairah, kini kami sudah bergumul dengan panas di atas ranjangku. Beberapa lamanya kami saling pagut dan berpelukan dengan mesra. Desahan dan rintihan kami berdua memenuhi kamarku, dan kami baru saling melepaskan ketika sama sama kehabisan nafas.

“Eliza… kamu nakal ya…”, kata Cie Stefanny sambil menatapku dengan muka cemberut, tapi jelas sekali ia sedang menahan senyumnya.

Aku menjawab dengan menyusupkan wajahku di antara belahan dada Cie Stefanny. Senang rasanya ketika Cie Stefanny memeluk kepalaku dan mengusap rambutku. Rasanya nyaman sekali, seperti mengobati kelelahanku setelah tadi siang aku harus pasrah melayani tujuh orang yang ramai ramai memperkosaku di tempat tukang tambal ban itu.

“Cie…”, aku mengguman pelan.

“Ada apa Eliza?”, tanya Cie Stefanny lembut.

“Hari ini, Cie Cie mau ya, menginap di sini?”, tanyaku sambil mendongak dan menatap wajah guru lesku ini dengan penuh harap.

“Kenapa? Kok tumben sih kamu jadi aneh gini, Eliza?”, sekali ini Cie Stefanny menatapku heran.

“Mmm… besok aku ada ulangan bahasa Inggris, dan ada bahan yang aku belum bisa Cie”, kataku mencoba memberi alasan.

Sesungguhnya aku hanya ingin Cie Stefanny menemaniku hari ini. Aku ingin terus memeluknya, mencumbuinya, dan bahkan kalau mungkin bercinta dengannya. Entah mengapa Cie Stefanny hari ini terlihat amat menggairahkan bagiku. Dan aku sudah membayangkan malam ini aku akan bercinta dengan Cie Stefanny, walaupun mungkin sebaiknya nanti itu aku dan Cie Stefanny sama sama menahan lenguhan saat menikmati percintaan kami, supaya tak ketahuan oleh keluargaku.

“Iya Cie Cie ajarin, tapi nanti malam Cie Cie pulang ya… Cie Cie kan nggak bawa baju…”, Cie Stefanny menawar permintaanku dengan ragu.

“Nggak usah Cie, please… Temani aku ya Cie, kan Cie Cie bisa pakai bajuku…”, aku mulai merengek.

“Duh… Kamu aneh deh hari ini, Eliza… Biasanya kan kamu nggak pakai minta ditemanin segala seperti ini… Ya udah, terserah kamu”, kate Cie Stefanny sambil tersenyum, manis sekali.

“Thanks ya Ciee…”, aku langsung meluapkan kesenanganku dengan kembali memagut bibir Cie Stefanny sejadi jadinya.

“Mmmhh…”, Cie Stefanny mendesah, tubuhnya menegang sesaat, tapi kemudian mengendur dan pagutanku kembali berbalas.

Kini ciuman kami semakin panas, apalagi Cie Stefanny sudah pasrah dengan kenakalanku. Ia membiarkan lidahku menjelajahi mulutnya, dan sekarang ini kurasakan lidahku saling mengait dengan lidah Cie Stefanny.

Setelah beberapa saat kami saling mencumbu, tiba tiba Cie Stefanny membalik posisi kami hingga sekarang ia yang menindihku. Aku hanya menurut dan memejamkan mata, pasrah menunggu apa yang akan dilakukan guru lesku ini padaku.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny di antara nafasnya yang memburu.

“Iya Cie…”, aku membuka mataku dan menatapnya.

“Kalau kita seperti ini terus, kapan kamu mau belajar? Katanya besok kamu ada ulangan…”, bisik Cie Stefanny.

“Mmm… bentar Cie…”, kataku sambil memeluk dan balik menindih tubuh Cie Stefanny.

Kini aku menyusupkan wajahku di pundak kiri Cie Stefanny. Bau harum dari rambut Cie Stefanny yang tergerai di depanku ini membuatku tak ingin segera melepaskan guru lesku ini. Aku terus bermanja manja di pelukan Cie Stefanny sambil mencium rambutnya.

“Ih… kamu kenapa sih…”, Cie Stefanny menggodaku.

“Mmm… aku suka wangi rambutnya Cie Cie…”, aku asal menjawab sambil memeluk Cie Stefanny.

Kalau saja aku tidak ingat liang vaginaku sekarang ini penuh dengan sisa sperma para pemerkosaku tadi, juga pahaku yang berlumuran sperma itu, aku pasti sudah melucuti pakaianku sendiri dan juga pakaian Cie Stefanny, lalu bercinta dengannya. Tapi kini aku lebih baik mandi keramas membersihkan tubuhku.

“Cie… Eliza mandi dulu ya…”, aku berbisik di telinga Cie Stefanny.

“Mmm…”, Cie Stefanny hanya mengguman, mirip sekali sepertiku ketika sedang dalam keadaan terangsang dan malas diajak bicara.

Aku mati matian menahan gairahku yang menggelegak ini dan aku beranjak dari tubuh Cie Stefanny. Kubiarkan guru lesku ini terbaring di atas ranjangku, dengan dadanya yang naik turun sesekali. Mungkin Cie Stefanny sendiri juga sedang berusaha menahan gairahnya, membuatku sedikit malu juga setelah berbuat ‘nakal’ pada guru lesku ini.

Sambil menggigit bibir menahan senyum, aku segera mengambil pakaian dalamku dari lemari, lalu aku segera ke kamar mandi. Setelah selesai keramas, aku menyiram dan membilas seluruh tubuhku dengan sabun cair plus air hangat. Semua debu dan keringat yang menempel di tubuh ini hanyut terbawa air shower, dan rasanya nyaman sekali.

Tapi yang pasti aku tak mungkin lupa untuk mencuci sperma para lelaki yang beruntung menikmati tubuhku siang hari tadi, baik yang kini sudah mengering di kedua pahaku, dan juga yang masih tersisa di dalam liang vaginaku yang amat becek ini.

Perlahan kumasukkan satu jariku yang sudah kulumuri sabun pencuci vagina untuk mengorek semua sisa campuran sperma dan cairan cintaku di dalam sana, lalu kusemprotkan air hangat sampai liang vaginaku jadi terasa bersih dan kesat. Setelah memberi cairan pengharum vagina yang juga berfungsi sebagai antiseptik, aku menghanduki rambutku dan tubuhku.

Lalu aku memakai bra dan celana dalamku. Dan tanpa memakai baju, aku segera keluar dari kamar mandi, mengunci pintu kamarku untuk memastikan tak ada gangguan dari luar. Lalu setelah mengambil buku pelajaran bahasa Inggrisku dari lemari buku pelajaranku, sekarang aku sudah duduk di sebelah Cie Stefanny yang masih tiduran di ranjangku.

“Eliza? Kamu…”, Cie Stefanny memandangku sejenak, lalu ia tersenyum malu dan memalingkan mukanya.

“Cie, ayo… katanya Eliza disuruh belajar…”, kataku dengan manja sambil memeluk Cie Stefanny.

“Eliza… kamu nakal ya…”, kata Cie Stefanny dan mencubit kedua pipiku dengan gemas.

“Auww… sakit Ciee… ampun…”, aku mengeluh manja.

Kami berdua sama sama tertawa geli. Berikutnya aku duduk di sebelah Cie Stefanny, sambil mulai membuka buku pelajaran bahasa Inggrisku.

Setelah menunjukkan beberapa halaman yang menjadi bahan ulangan besok, terutama bagian yang aku merasa cukup sulit, Cie Stefanny mengambil buku itu dan memperhatikan halaman demi halaman.

Kini aku malah memperhatikan Cie Stefanny, dan melihat Cie Stefanny masih memakai pakaian lengkap, aku jadi usil.

“Cie, aku lepas bajunya ya…”, kataku sambil mencoba melucuti baju Cie Stefanny.

“E… Eliza… ini…”, Cie Stefanny mengeluh sambil memandangiku, tapi tak sedikitpun kurasakan ada perlawanan ataupun penolakan dari guru lesku yang cantik ini.

Aku terus melepas baju Cie Stefany, dan memang Cie Stefanny sudah pasrah. Ia menurut saja dan mengangkat tangannya ketika aku menarik lepas baju itu dari tubuhnya. Lalu kulempar baju itu hingga terhampar di kursi meja belajarku, yang biasanya kupakai duduk selama les dengan Cie Stefanny.

Kaus merah muda ketat yang masih melapisi tubuh Cie Stefanny kutarik lepas ke atas. Agak sulit aku melepaskan kaus itu karena begitu ketatnya kaus itu membalut tubuh Cie Stefanny. Aku segera melempar kaus yang kulucuti dari tubuh Cie Stefanny itu ke tempat yang sama dimana tadi aku melempar baju Cie Stefanny.

Kini aku melihat kedua payudara Cie Stefanny yang masih terbungkus bra. Tidak begitu besar, kira kira hanya lebih besar sedikit dari milikku.

Cie Stefanny hanya menatapku dengan ragu, lalu ia menunduk sambil tersenyum malu. Aku tak menyia nyiakan kesempatan ini dan segera melucuti sabuk yang dikenakan Cie Stefanny.

“Oh… Eliza… jangan…”, Cie Stefanny kembali merengek, dan ia menatapku dengan pandangan memelas.

Tapi aku tak perduli, kini aku berusaha melucuti celana jeans yang dikenakan Cie Stefanny. Resleting itu sudah kutarik turun dan kurasakan tubuh Cie Stefanny sempat menegang dan kedua telapak tangan Cie Stefanny menahan pergelangan tanganku, sepertinya Cie Stefanny tak ingin bagian bawah tubuhnya kutelanjangi.

Perlawanan yang jelas jelas hanya dilakukan dengan setengah hati itu membuatku menggigit bibir dan menatap Cie Stefanny dengan penuh gairah. Kutarik paksa celana jeans itu dari pinggang Cie Stefanny dan terus kulorotkan sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yang indah itu.

Aku melempar celana jeans itu ke arah kursi dimana baju dan kaos Cie Stefanny tergeletak.

“Nah, gini dong baru adil Cie”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Kamu…”, Cie Stefanny memandangku gemas dengan senyum yang tertahan.

Kini kami berdua sama sama hanya mengenakan bra dan celana dalam. Baru kali ini aku melihat tubuh Cie Stefanny dengan jelas, begitu ramping dan indah. Kulitnya putih sekali, mungkin lebih putih dari kulitku, membuat rambut Cie Stefanny yang lurus dan panjang itu tampak semakin hitam dan indah.

Bra dan celana dalam warna putih bercampur coklat muda itu membuat tubuh Cie Stefanny begitu sexy dan menggairahkan. Wajah guru lesku yang cantik itu merona merah ketika ia menunduk malu, mungkin karena ia melihatku memperhatikan tubuhnya sampai sebegitunya.

Sempat kuperhatikan, ada beberapa bagian dari kedua pangkal paha Cie Stefanny yang membekas merah, sepertinya bekas cupangan. Demikian juga kedua payudaranya Cie Stefanny, ada beberapa bekas cupangan juga. Dan celana dalam Cie Stefanny juga sedikit basah, mungkin karena sekarang ini Cie Stefanny sedang terangsang hingga cairan cintanya sedikit keluar membasahi celana dalamnya itu.

Keadaan Cie Stefanny ini membuatku menduga duga, apakah leceknya spreiku ini karena Cie Stefanny tadi sempat dipermainkan Wawan dan Suwito di atas ranjangku? Apakah beberapa bekas cupangan pada tubuh Cie Stefanny itu adalah hasil dari perbuatan mereka berdua?

“Kamu kenapa lagi Eliza…”, Cie Stefanny bertanya dengan curiga dan khawatir.

“Nggak apa apa Cie… abisnya asyik ngeliatin Cie Cie yang sexy gini”, aku mendesah dengan penuh gairah sambil kembali menindih Cie Stefanny, dan ujung rambutku jatuh terhampar di samping wajah Cie Stefanny.

“Eliza boleh kan sayang sama Cie Cie…”, kataku di sela nafasku yang makin memburu.

“Mmhh… boleh sayang…”, desah Cie Stefanny dengan pasrah dan menatapku dengan sayu.



Kepasrahan Cie Stefanny membuatku tak tahan lagi untuk mencumbuinya. Aku membelai pipi kiri Cie Stefanny, lalu mengecup mata dan bibirnya. Kurasakan tangan kanan Cie Stefanny melingkar di punggungku, memberikan belaian yang mesra. Aku sangat senang dan mendekap tubuh guru lesku ini, rasanya nyaman sekali.

“Mmmh… Eliza… kamu kok tiba tiba seperti ini sih… sejak kapan kamu jadi begini…”, Cie Stefanny merintih ketika aku mencium lehernya.

Aku diam sejenak, ingin rasanya aku menceritakan semua kejadian buruk yang menimpaku, termasuk penderitaanku siang tadi di tempat tambal ban itu, tapi aku pikir lebih baik kuceritakan nanti malam saja.

“Aku… nanti aja aku ceritakan Cie… sekarang aku cuma ingin menyayangi Cie Cie…”, aku berbisik pelan di telinga Cie Stefanny.

“Ooh…”, Cie Stefanny mengeluh pasrah ketika aku melanjutkan mengulum daun telinganya yang kiri.

Tubuh Cie Stefanny menegang dan mulai gemetar. Cie Stefanny sudah sangat terangsang akibat perbuatan nakalku ini, dan dadanya terlihat naik turun mengiringi nafasnya yang mulai tak beraturan. Aku sendiri juga sedang diamuk birahi, yang mengalahkan semua rasa capek di tubuhku.

“Tapi… kalau kita begini terus… kamu kapan… belajar…”, Cie Stefanny mendesah terputus putus di sela nafasnya yang memburu.

Meskipun Cie Stefanny bertanya seperti itu, tak ada reaksi penolakan sedikitpun dari Cie Stefanny. Ia hanya pasrah sambil memejamkan matanya ketika aku masih terus memberikan rangsangan pada tubuhnya.

Sebenarnya aku sendiri sangat lelah, ingin rasanya tidur sambil memeluk Cie Stefanny, tapi kata kata tadi itu membuatku sadar kalau sekarang ini aku masih harus belajar untuk ulangan besok. Maka aku menyandarkan kepalaku di pundak kiri Cie Stefanny, lalu aku memejamkan mataku sambil berusaha menekan gairah birahiku yang membara ini.

“Iya Cie, sebentar ya…”, aku mengguman dan tak bergerak gerak lagi, hanya menikmati empuknya tubuh Cie Stefanny yang berada di bawah tindihan tubuhku.

Cie Stefanny sendiri juga hanya diam saja, tapi sesekali ia membelai punggungku. Aku merasa disayang oleh Cie Stefanny, dan itu membuatku senang sekali.

Setelah beberapa menit, barulah aku mau melepaskan Cie Stefanny, dan duduk di sampingnya. Cie Stefanny sendiri juga duduk, dan kami saling berpandangan dengan mesra sambil tersenyum geli. Kini sambil sesekali tertawa kecil dan saling menggoda, kami berdua membahas apa yang harus kupelajari untuk ulangan besok.

Yang pasti, aku tahu sejak saat ini, les bahasa Inggris ini adalah les yang paling menyenangkan di antara semua les yang harus kuikuti.


“Sekarang bagaimana, anak nakal? Kamu ini udah bisa dan sangat siap untuk ulangan besok. Terus… masa Cie Cie masih harus menginap di sini?”, tanya Cie Stefanny dengan senyum menggoda.

“Ciee… pleasee… temani aku yaa… sehari iniii aja…”, aku merengek manja sambil merangkul Cie Stefanny.

“Iya iya… Tadi Cie Cie juga udah mau kok. Tapi… kamu hari ini benar benar aneh, Eliza…”, guman Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

Aku menatap Cie Stefanny dengan mesra, lalu perlahan aku menyandarkan kepalaku di payudara Cie Stefanny yang masih terlindung bra ini. Rasanya aku tak ingin hari ini segera berakhir, aku masih ingin bermanja manja lebih lama di pelukan Cie Stefanny.

“Ko Melvin nggak marah kan Cie kalau aku sayang sama Cie Cie…”, tanyaku bermaksud menggoda.

“Nggak, Cie Stefanny udah putus sama Melvin”, kata Cie Stefanny membuat aku seperti mendengar petir di siang bolong.

“Apa…”, tanyaku tak percaya.

“Udah nggak usah bicarain hal itu. Liat nih, gara gara kamu, pakai nelanjangin Cie Cie segala, sekarang perut Cie Cie mulas nih. AC kamarmu dingin sekali sih… aduh…”, keluh Cie Stefanny sambil memegangi perutnya yang rata dan indah itu.

“Aduh… maaf ya Cie… ya udah Cie Cie ke WC dulu aja”, aku tertawa geli dan beranjak ke lemari bajuku.

Aku mengambilkan satu set baju milikku untuk Cie Stefanny, baju rumah yang santai, lengkap dengan bra dan celana dalamku. Kuberikan semua itu juga handuk cadanganku, dan Cie Stefanny beranjak dari ranjangku ke kamar mandi di kamarku ini.

“Cie…”, kataku tiba tiba, membuat Cie Stefanny menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, dan tanpa berkata apapun aku langsung memeluk Cie Stefanny dan memagut bibirnya dengan penuh rasa mesra.

Aku senang sekali karena pagutanku kembali berbalas, dan kami berciuman dengan panas untuk beberapa saat lamanya, sampai akhirnya kami saling melepaskan pagutan ini dengan nafas yang tersengal sengal.

“Udah dong Eliza… Bisa bisa Cie Cie nggak jadi ke kamar mandi nih kalau pacaran sama kamu terus”, kata Cie Stefanny sambil cemberut, dan sesaat kemudian kami berdua tertawa geli.

“Iya deh Cie… oh iya Cie Cie nggak boleh sungkan sungkan lho… pakai aja shampoo dan sabunku ya… nanti aku kasih bonnya kok”, kataku sambil duduk di ranjangku dan menatap Cie Stefanny dengan senyum usil.

“Oh gitu ya… awas kamu nanti ya… dasar anak nakal…”, kata Cie Stefanny sambil melirikku dengan ekspresi wajah kesal, dan setelah kami sama sama tertawa geli Cie Stefanny masuk ke kamar mandi.

Aku tersenyum, rasanya senang sekali hari ini Cie Stefanny mau menginap di sini.

Sekarang jam 17:30. Sebentar lagi papa mamaku, juga kokoku akan segera pulang. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mencari jawaban tentang leceknya sprei ranjangku, sekaligus menanyai kedua pembantuku itu, apa yang telah mereka perbuat terhadap Cie Stefanny.

Maka aku mengenakan baju rumah yang kuambil dengan asal pilih, lalu aku turun ke bawah menuju ke kamar mereka untuk mencari mereka berdua.

Tanpa mengetuk pintu, kubuka kamar mereka, dan kutemukan Wawan dan Suwito di dalam sana. Mereka terlihat agak terkejut melihat kedatanganku yang memasang muka kesal.

“Ada apa non”, tanya mereka nyaris berbarengan.

“Kalian… apa yang tadi kalian lakukan ke guru lesku? Nggak cukup ya kalian sehari hari memperkosa aku, sampai guru lesku ini juga kalian perkosa?”, tanyaku dengan kesal.

Entah Cie Stefanny masih virgin atau tidak, tapi kalau sampai keperawanan Cie Stefanny terenggut oleh kedua maniak ini, bukankah aku jadi ikut merasa bersalah?

“Lho non, tadi itu kami memang main main sebentar dengan guru lesnya non. Tapi kami nggak sampai ngeseks kok”, jawab Wawan dengan muka tak bersalah.

“Lalu kalau nggak ngeseks, kenapa badan Cie Cie itu bisa ada bekas merah merah? Memangnya main mainnya kalian itu seperti apa?”, aku setengah membentak, entah mengapa aku tak rela kalau membayangkan Cie Stefanny dipermainkan oleh mereka berdua.

“Non, jangan marah dulu, biar kami jelaskan”, kata Suwito yang beranjak berdiri lalu mendekatiku.

Ketika Wawan melakukan hal yang sama, aku sadar akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Aku mencoba untuk mundur supaya aku berada di luar kamar ini, tapi Suwito lebih cepat, ia sudah menutup pintu kamar ini.

“Kalian mau apa?”, tanyaku dengan panik.

“Lho non ini gimana? Tadi non nanya, gimana kami main main sama guru lesnya non”, kata Suwito sambil cengegesan.

“Tadi itu begini ceritanya non… tiap hari Kamis jam setengah tiga itu biasanya non kan sudah selesai les, jadi kami mau menemani non tidur siang. Eh nggak tahunya bukan non yang ada di sana, tapi guru lesnya non itu yang lagi tidur”, kata Wawan, yang begitu kata katanya selesai langsung mendekapku erat.

“Eh… jangan sekarang Wan…”, aku mencoba meronta, aku tak ingin bermain seks menjelang pulangnya papa dan mamaku, apalagi di atas ada Cie Stefanny.

“Tenang aja non, sekarang non berbaring dulu lah”, kata Wawan sambil menyeretku ke ranjangnya, lalu ia membaringkan tubuhku di atas ranjang.

“Kalian jangan gila, papa mamaku sebentar lagi pulang mmpphh…”, kata kataku terhenti ketika Wawan melumat bibirku.

“Ini awalnya kami main main sama guru lesnya non. Selagi dia tidur, Wawan duduk di sebelah kanannya, terus langsung cium cium seperti itu”, kata Suwito yang kulihat juga sedang mendekatiku.

Kata kata Suwito ini membuatku sadar kini mereka sedang memperagakan apa yang tadi mereka lakukan terhadap Cie Stefanny untuk menjelaskan semuanya padaku. Gilanya, aku malah terangsang dan pasrah menunggu apa yang akan mereka lakukan.

“Guru lesnya non terbangun, meronta sebentar, tapi kedua tangannya saya tangkap seperti ini”, kata Suwito sambil meraih kedua pergelangan tanganku, lalu disatukan di atas kepalaku dan ia memegang dengan erat sampai aku tak bisa bergerak lagi, hanya kakiku yang masih bebas, namun jelas tak ada artinya karena aku malah mulai menikmati ketidakberdayaanku untuk menggerakkan kedua tanganku ini.

“Nah, terus saya lepasi kancing bajunya”, kata Wawan sambil melepasi kancing bajuku.

Lalu tanpa berkata apa apa lagi, Wawan mulai membelai dan menciumi payudaraku, membuatku mendesah perlahan. Tangan Suwito yang satunya membekap mulutku, sungguhpun itu adalah hal yang tidak perlu karena aku tak akan menjerit.

Tapi aku tahu Suwito memang ingin ‘merekonstruksi’ apa yang tadi diperbuat olehnya terhadap Cie Stefanny. Demikian juga dengan Wawan. Aku sedang dijadikan model peraga mereka berdua untuk menerangkan bagaimana mereka tadi melecehkan Cie Stefanny.

Sungguh kurang ajar perbuatan mereka ini, tapi jujur saja aku benar benar menikmatinya. Kalau tadinya aku kesal karena mereka kurang ajar terhadap Cie Stefanny, kini aku malah semakin bergairah membayangkan Cie Stefanny tadi diperlakukan seperti ini.

Tiba tiba kurasakan sedikit rasa sakit bercampur geli pada bagian payudaraku. Ternyata Wawan sedang sibuk mencupangi kedua payudaraku. Aku jadi semakin terangsang dan menggeliat perlahan, kedua kakiku kutekuk sedikit hingga telapak kakiku sepenuhnya menempel pada ranjang ini, lalu kutekankan ke bawah untuk menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhku.

“Jangan berteriak ya non”, kata Suwito kepadaku, dan sambil melepaskan pegangannya pada kedua telapak tanganku, kepalaku ditekan, menuntun aku melakukan gerakan mengangguk.

“Nah, setelah guru lesnya non mengangguk, saya lepasin”, kata Suwito sambil melepas bekapannya pada mulutku.

Aku langsung mendesah karena Wawan menyupangi kedua payudaraku, dan ia mulai menyusu bergantian pada kedua puting payudaraku dengan rakus. Sementara itu Suwito melepas celananya, mengeluarkan senjatanya dan menyodorkan ke arah mulutku.

“Diisep non”, perintah Suwito.

Tangan si Suwito bergerak meraih kepalaku, dan menekan kepalaku ke arah selangkangannya. Kini aku mengoral penisnya Suwito, sementara Wawan menyibak rok yang kukenakan, lalu ia sudah sibuk menyupang kedua pangkal pahaku, bergantian.

Aku mulai gemetar menahan nikmatnya rasa geli yang bercampur sedikit sakit ini.

Sementara Suwito sendiri dengan bersemangat memompa mulutku sambil tangannya meraih payudaraku yang sebelah kiri, dan ia meremas dengan seenaknya, kadang lembut, kadang kasar dan menyakitiku.

“Mmph..”, aku merintih ketika remasan pada payudaraku begitu kuat dan menyakitkan.

Kedua pangkal pahaku sudah basah oleh air ludah Wawan, dan pasti sudah ada bekas cupangan di sana sini. Kini aku sudah tahu bagaimana bisa ada bekas cupangan di kedua payudara dan paha Cie Stefanny.

Tiba tiba kurasakan jilatan pada selangkanganku yang masih terbungkus celana dalam ini. Aku menggeliat lemah, dan tak ada yang bisa kulakukan selain terus memberikan servis oral pada Suwito, yang entah kenapa cepat sekali hari ini dia sudah mencapai puncak.

“Ooh… non Elizaa… sepongan non memang nomer satuu…”, Suwito meracau dan melolong, tubuhnya menggigil tanda penisnya sudah akan berejakulasi.

Penis itu berkedut dan menyemprotkan cairan sperma ke dalam mulutku, hanya sedikit. Aku cepat menelan semuanya, sudah bosan hari ini aku merasakan genangan cairan sperma dalam mulutku. Setelah aku melaksanakan ‘kewajibanku’ untuk mengulum penis itu sampai bersih, Suwito terduduk lemas di bawah sana, sementara Wawan masih sibuk menjilati celana dalamku hingga makin basah saja. ©kisahbb

“Ya, kami baru sebentar menemani guru lesnya non, tiba tiba kami dengar suara mesin mobilnya non, jadi kami keluar dari kamar non dan lewat belakang, supaya tidak ketahuan non”, kata Suwito sambil cengengesan sambil menyulut sebatang rokok dan mulai menghisapnya.

“Ohh… sudah, hentikan… katanya kalian udah keluar… harusnya sekarang kan sudah selesai…”, aku merintih ketika Wawan masih saja meneruskan cumbuannya pada liang vaginaku.

Aku tak heran melihat Wawan tak perduli. Ia malah mengait bagian bawah celana dalamku, pastinya dengan jarinya, lalu setelah menarik bagian bawah celana dalamku hingga liang vaginaku terpampang di hadapannya, dengan rakus ia mencucup liang vaginaku, membuatku menggelepar keenakan.

Walaupun aku minta Wawan menghentikan perbuatannya, aku sendiri sama sekali tak berusaha untuk melepaskan diri, meskipun aku bebas bergerak. Aku malah pasrah dijadikan barang mainan oleh kedua pembantuku ini.

Suwito sudah asyik mencucup puting payudaraku yang kiri setelah menaikkan braku sedikit, membuatku semakin tak berdaya dan memilih menikmati semua ini, walaupun aku sadar di atas itu ada Cie Stefanny yang mungkin akan bertanya tanya kalau aku tidak segera kembali ke sana.

Deru khas mesin mobil papaku di depan rumah menyelamatkanku dari pergumulan lebih lanjut dengan kedua pembantuku ini. Wawan dan Suwito segera melepaskanku, lalu mereka keluar untuk membuka pintu gerbang, tentunya setelah mereka mengenakan baju seperlunya. Aku sendiri dengan panik segera keluar dari kamar ini sambil membetulkan letak braku yang sudah tak karuan, dan aku terus berlari menaiki tangga belakang menuju ke kamarku sambil mengancingkan bajuku.


Jantungku masih berdegup kencang. Aku masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu. Ternyata Cie Stefanny masih berada di kamar mandi. Aku duduk di ranjangku sambil mati matian berusaha menekan gairahku yang masih amat tinggi setelah tadi aku dipermainkan kedua pembantuku di kamar mereka tadi.

Aku sudah tahu penyebab leceknya sprei ranjangku ini. Ternyata benar seperti dugaanku, Cie Stefanny tadi sempat menjadi korban dua pembantuku yang sudah keranjingan menikmati tubuh gadis Chinese.

Aku tahu Papa mamaku sudah pulang, kokoku juga harusnya sudah pulang, karena sebentar lagi kami aka makan malam. Maka aku terus berusaha untuk tak memikirkan semua hal yang bisa membangkitkan gairahku terhadap Cie Stefanny. Lebih baik aku bertemu dengan semua keluargaku dalam keadaan yang wajar, bukan dalam keadaan bergairah seperti ini.

‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, dan Cie Stefanny keluar dengan rambut terurai, sedikit basah.

Sungguh Cie Stefanny terlihat begitu cantik sexy di mataku. Aku memandangnya dengan tatapan mesra dan kagum, sementara Cie Stefanny sendiri setelah bertatapan denganku, menunduk dan tesipu malu.

Oh, ingin sekali aku memeluk Cie Stefanny, mencumbuinya lagi, tapi aku mati matian menahan diri karena aku tahu masih banyak waktu untuk itu nanti malam. Dan sekarang ini lebih baik kalau aku tidak terus terusan membakar tubuhku dengan gairahku sendiri, supaya nanti aku punya cukup tenaga untuk bercinta dengan Cie Stefanny.

“Cie, nanti makan sama sama ya Cie, tapi seadanya aja… nggak apa apa ya?”, aku bertanya sambil duduk di atas ranjangku, sekalian mengistirahatkan tubuhku sejenak.

“Duh Eliza… makanya kamu ini, sekarang Cie Cie jadi nggak enak…”, keluh Cie Stefanny dengan bingung.

“Yee, kenapa pakai nggak enak sih? Nggak apa apa lah Cie…”, jawabku sambil berpikir.

Aku baru sadar, berarti nanti Cie Stefanny akan bertemu kokoku.

Sebenarnya mereka ini sempat berpapasan ketika Cie Stefanny akan pulang setelah les selesai, tepat ketika kokoku memasukkan mobil ke dalam garasi. Waktu itu, Cie Stefanny tidak melihat kokoku, tapi kokoku melihat Cie Stefanny dari dalam mobilnya. Dan setelah Cie Stefanny pergi, kokoku waktu itu bilang kepadaku kalau Cie Stefanny itu cantik sekali.

Sekarang ini Cie Stefanny udah putus dari pacarnya yang bernama Melvin itu. Jadi aku nggak merasa bersalah kalau aku ngenalin Cie Stefanny dengan kokoku. Dan kalau kami makan di rumah, mereka berdua akan bertemu muka untuk pertama kalinya. Lalu nanti aku akan mengatur mereka duduk bersebelahan.

Oh, senangnya kalau kelak ternyata mereka berdua bisa menjadi pasangan, berarti Cie Stefanny akan menjadi Cie Cie iparku.

“Iih… anak nakal, kenapa kamu senyum senyum?”, tanya Cie Stefanny sambil mendekatiku dan dari gerak gerik tubuhnya aku tahu Cie Stefanny akan melakukan sesuatu terhadapku.

Rupanya tadi itu tanpa sadar aku tersenyum membayangkan semua itu.

“Rahasia!”, kataku sambil tersenyum geli dan meleletkan lidah.

“Auuw… ampun Cieee”, aku mengeluh kesakitan ketika Cie Stefanny mencubit lenganku.

“Nggak ada ampun, kamu hari ini nakal sekali”, kata Cie Stefanny sambil tertawa, dan mencubit lenganku yang satunya dengan gemas.

“Aduuh…”, aku mencoba menghindar dengan menjatuhkan badanku ke ranjang, tapi tak kusangka Cie Stefanny malah menyergapku, dan sekarang ini ia menindihku. Untuk beberapa saat lamanya, kami saling bertatapan, dan tanpa ampun lagi gairahku langsung naik cepat.

“Eliza…”, Cie Stefanny berbisik mesra padaku, terlihat sekali Cie Stefanny sendiri sedang diamuk gairah.

Bisa ditebak, selanjutnya kami sudah berciuman dengan panas. Aku memeluk Cie Stefanny erat erat dan kami saling memagut bibir seperti layaknya sepasang kekasih. Kupejamkan mataku menikmati semua ini, bibirku kubuka perlahan menerima air ludah Cie Stefanny.

Kutelan semuanya dengan cepat, lalu aku menyusupkan lidahku ke dalam mulut Cie Stefanny. Tubuhku bergetar ketika lidahku terjepit oleh bibir Cie Stefanny. Aku semakin melayang ketika kurasakan lidahku disedot masuk ke dalam mulut Cie Stefanny, tak ada yang bisa kulakukan selain merintih mesra.

Pelukanku melemah seiring semakin sulitnya aku bernafas. Cie Stefanny sendiri juga tersengal sengal, dan kami saling melepaskan diri. Tapi Cie Stefanny dengan nafasnya memburu, mulai melepasi kancing bajuku. Dengan penuh gairah aku sendiri juga melakukan hal yang sama, aku sudah tak sabar untuk bercinta dengan Cie Stefanny.

‘tok tok tok…’, suara pintu kamarku yang diketuk membuat kami berdua berhenti.

“Eliza, ayo turun, waktunya makan malam…”, aku mendengar suara mamaku.

“Iya maa…”, aku cepat menjawab.

Batal saling menelanjangi, Cie Stefanny dan aku dengan panik langsung berusaha mengancingkan semua kancing baju kami masing masing, dan juga merapikan rambut kami yang sedikit awut awutan ini.

“Sudah ditungguin semua lho… Mama tunggu di bawah ya, Eliza…”, kata mama lagi.

“Iya ma, Eliza turun bentar lagi…”, aku menjawab lagi.

Akhirnya kami berdua selesai merapikan baju dan rambut kami yang sedikit awut awutan ini. Aku dan Cie Stefanny saling pandang dan tertawa geli, melihat tubuh kami yang bisa bisanya berkeringat di kamar dengan AC sedingin ini.

Kini kami berdua keluar kamar. Aku menggandeng tangan Cie Stefanny dan kami berdua berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan.

“Eh… ada temanmu toh… Kamu kok nggak bilang sih Eliza?”, tegur mamaku.

“Ma, ini kan Cie Stefanny, guru les bahasa Inggrisnya Eliza. Sorry ya ma, ini tadi Eliza lupa waktu, masih sibuk belajar untuk ulangan besok, terus Eliza masih ada yang belum bisa. Jadi Cie Stefanny mau menginap di sini, untuk ngajarin Eliza sampai nanti agak malam”, aku menjawab sekaligus memberikan alasan mengajak Cie Stefanny menginap di sini, tentunya di kamarku.

Alasan yang benar benar spontan terpikir begitu saja. Meskipun aku sudah selesai belajar, tapi lebih baik kalau mereka berpikir Cie Stefanny menginap di sini karena mau mengajariku untuk ulangan besok.

Dengan begitu aku tak usah berpikir keras mencari alasan mengapa aku mengajak guru lesku menginap, dan lebih lagi, mereka tak akan menggangguku malam ini, semalam bersama Cie Stefanny yang cantik.

“Suk… Ai… Ko…”, Cie Stefanny menyapa semua keluargaku.

“Oh iya, Stefanny ya, Ai kira teman Eliza… Aduh… kamu sekarang jadi makin ayu ya… Ai sampai pangling lho… Ini si Eliza kok jadi ngerepotin, makasih ya Stefanny”, kata mamaku yang tersenyum hangat pada Cie Stefanny.

“Oh… nggak… nggak apa apa kok Ai, Stefanny suka kok mm… ngajarin Eliza”, kata Cie Stefanny tergagap dan tersipu malu.

“Ayo Stefanny, duduk dan makan bersama”, ajak papaku.

“Iya, makasih Suk”, jawab Cie Stefanny dengan kikuk.

Aku segera memperhatikan kokoku. Ternyata kokoku tak berani melihat ke arah Cie Stefanny, dan ia malah menunduk, mukanya memerah. Diam diam aku tersenyum geli melihat hal ini dan sifat usilku segera kambuh. Aku menggandeng Cie Stefanny yang hanya menurut saja ke kursi di sebelahnya kokoku.

“Ko, disapa sama Cie Cie kok nggak jawab sih? Nggak sopan ah”, aku pura pura menegur dengan kesal sambil membuka kursi itu supaya di acara makan malam ini Cie Stefanny duduk di sebelah kokoku.

“Eh… itu… iya… Aku Hengki”, kokoku dengan panik menjawab dan makin salah tingkah.

Setelah menatap sekilas ke arah Cie Stefanny, lalu ke arahku, kokoku segera menunduk lagi sambil tersenyum malu, jelas sekali kalau kokoku jadi salah tingkah.

“Aku Stefanny”, kata Cie Stefanny dengan suara pelan. Cie Stefanny menggigit bibirnya sejenak, lalu ia juga menunduk dan tersenyum malu.

“Kok nggak ngajak salaman sih ko? Masa kenalan kok seperti orang ketakutan gitu… Cie Stefanny ini baik kok, nggak nggigit. Eliza jamin deh ko”, aku semakin usil menggoda mereka berdua.

“Oh iya…”, kata kokoku dengan suara yang terdengar jelas gemetar, tapi kokoku berdiri mengulurkan tangannya mengajak Cie Stefanny bersalaman.

Aku sekuat tenaga berusaha menahan tawa melihat keduanya bersalaman dengan begitu canggung dan malu malu. Apalagi sekilas aku melihat papa mamaku tersenyum senyum. Selesai mereka bersalaman, aku tak menduga tiba tiba Cie Stefanny dengan diam diam mencubit pinggangku.

“Auuw…”, aku mengeluh kaget dan tertawa kegelian.

“Kenapa Eliza?” tanya mamaku heran.

“Enggak apa apa ma, tadi kaki Eliza ada yang nginjak… nggak sengaja sih”, aku malah makin usil menggoda Cie Stefanny, yang kini sama sekali tak bisa berbuat apa apa untuk membalasku.

“Duduk sini ya Cie”, kataku sambil ‘membimbing’ Cie Stefanny untuk duduk di sebelah kokoku.

Sempat aku melihat Cie Stefanny menatapku dengan pandangan protes, tapi aku tak perduli dan cepat cepat meninggalkan mereka dan duduk di sebelah mamaku, tentunya dengan perasaan menang di dalam hati melihat Cie Stefanny yang diam diam menatapku dengan gemas. ©kisahbb

“Kalau gitu kebetulan. Tadinya papa dan mama bermaksud meninggalkan kokomu di rumah untuk menemani kamu di rumah, sayang. Tapi kalau ada Stefanny yang menemani kamu, nanti setelah makan kokomu bisa ikut papa dan mama menginap di hotel ***** malam ini, untuk menemani tamu papa dari luar kota”, kata papaku.

“Oh ya, nggak apa apa kok Pa”, kataku berusaha untuk bersikap tenang.

Padahal saat ini aku amat senang dan jantungku berdegup kencang, membayangkan nanti malam aku bisa bercinta dengan Cie Stefanny sepuas hati dan tak perlu menahan segala rintihan ataupun lenguhan saat aku tenggelam dalam kenikmatan bersama Cie Stefanny.

Maka acara makan malam ini dimulai, dan disemarakkan perkenalan kokoku dan Cie Stefanny yang masih sama sama kuliah ini. Walaupun tak terlihat banyak mengobrol, aku tahu sekarang ini kokoku pasti senang sekali bisa berkenalan dengan Cie Stefanny. Papa mamaku juga terlihat suka mengobrol dengan Cie Stefanny.

Aku makan dengan tenang, dan tidak terlalu berusaha menggoda Cie Stefanny dan kokoku, supaya mereka tak semakin canggung selama di meja makan ini. Tanpa sadar aku sendiri mulai melamunkan keadaanku. Kapan, aku bisa seperti ini sama Andi?




“Kok melamun, Eliza? Lagi mikirin apa sayang?”, aku tiba tiba dikagetkan mamaku yang memelukku dari belakang dengan lembut.

“Eh… mama… enggak…”, kataku sambil tersenyum malu dan memeluk tangan mamaku.

“Ya udah, ayo… sudah selesai belum makannya? Tinggal kamu yang masih di meja makan.”, kata mamaku, membuatku sadar.

“Ma, Cie Stefanny mana?”, tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke seputar ruang tamu dan ruangan utama, dan kemudian aku sudah menemukan jawabannya.

Cie Stefanny, sedang bersama kokoku di sofa ruang utama. Benar benar pemandangan yang jarang, karena kokoku itu lebih sering bersama teman teman cowoknya, atau kalau tidak ya sibuk dengan komputernya di kamarnya sendiri.

Baru kali ini aku melihat kokoku antusias mengobrol dengan cewek, dan mereka berdua entah sedang terlibat obrolan apa, yang pasti mereka terlihat akrab dan penuh canda tawa. Lagi lagi aku tersenyum senang melihat itu semua.

“Stefanny itu orangnya baik ya, Eliza…”, kata mamaku sambil melepaskan pelukannya dariku.

“Iya ma, Cie Stefanny itu orangnya baik, sabar, pintar lagi Ma. Pokoknya Cie Stefanny itu guru lesnya Eliza yang paling baik… auww…”, aku mengaduh karena kedua pipiku dicubit mamaku.

“Sudah sudah, nggak usah promosi. Mama juga tau kok… kamu sudah berapa kali bilang kalau kamu senang sekali mendapat guru les seperti Stefanny”, kata mamaku sambil melihat ke arah kokoku dan Cie Stefanny yang lagi tertawa di ruang utama.

“Ih mama, gitu juga masa Eliza dicubit… sakit nih”, aku merajuk manja, walaupun diam diam aku makin senang karena melihat cara mamaku menatap Cie Stefanny, aku merasa mamaku pasti suka kalau Cie Stefanny itu bisa jadian sama kokoku.

“Kamu ini sudah besar, masih saja manja seperti anak kecil. Sudah ayo piring kotornya diangkat”, kata mamaku sambil tertawa.

“Iya ma”, aku segera berdiri, mengangkat piringku dan membawa ke dapur.

Aku melihat jam, ternyata sudah jam 7:30 malam. Aku sebenarnya tak ingin segera merebut Cie Stefanny dari kokoku, tapi aku harus memperlihatkan kalau aku masih harus ‘belajar’ seperti kataku tadi, supaya mama papaku tidak curiga.

Selain itu, mungkin hal ini malahan bisa membuat kokoku berusaha mencari Cie Stefanny, semoga…

“Ehm…”, aku sengaja berdehem ketika aku sudah ada di ruang utama.

Mereka berdua langsung melihat ke arahku, lalu keduanya tertunduk malu. Sifat usilku kembali kambuh, dan aku jadi semakin ingin menggoda mereka. ©kisahbb

“Koko ini, tadi aja… disapa Cie Stefanny nggak jawab… Sekarang aku mau belajar sama Cie Stefanny, eh Cie Cie malah diculik ke sini. Gimana sih?”, kataku lagi dengan pura pura sedikit kesal.

“Ini… anu…”, kokoku tergagap panik.

Sedangkan Cie Stefanny sempat melotot padaku sekilas, tapi kemudian ia hanya bisa menunduk dan menggigit bibirnya sambil tersenyum malu sekali.

“Ya udah, sekarang waktunya Cie Stefanny nemani aku ya, kalau kalian belum selesai, sekarang tukeran nomer handphone dulu deh, jadi besok kan bisa dilanjutin”, kataku lagi, sekali ini dengan menahan tawa.

“Oh iya, kalau gitu boleh ya aku simpan nomer handphonemu ya Stefanny”, kata kokoku sambil mengeluarkan handphonenya. Yee… harusnya kokoku ini berterima kasih lho sama adiknya ini :p

“Iya boleh”, kata Cie Stefanny dengan suara yang pelan.

Aku mati matian menahan geli selagi mereka yang dengan sikap malu malu bertukar nomer handphone mereka. Ketika mereka saling missed call dan menyimpan nomer dalam handphone masing masing, aku melihat papa dan mamaku menghampiri kami semua di ruang utama ini. Maka aku mendekati Cie Stefanny dan merangkul tangan kanannya.

“Ayo Cie, sekarang sama Eliza dulu, besok besok aja baru sama koko, lagian koko itu kan udah mau pergi”, kataku sambil meleletkan lidah ke kokoku.

“Sudah ya, tukar tukaran nomer hanpdhonenya?”, mamaku malah ikut menggoda mereka berdua

Entah bagaimana keadaan Cie Stefanny, tapi aku tak bisa lagi menahan geli hingga aku tertawa sambil menutup mulutku melihat kokoku yang tidak bisa berbuat apa apa selain salah tingkah dengan wajah yang merah seperti kepiting rebus,

“Kalau sudah, ayo kita pergi. Stefanny, kami berangkat dulu, titip Eliza ya. Eliza, jangan bikin repot Stefanny ya”, kata papaku berpamitan.

“Oh… iya Suk, Ai”, kata Cie Stefanny yang terus menunduk malu.

“Lho lho? Koko kok nggak pamitan sama Cie Stefanny sih?”, aku memprotes dengan pura pura kesal.

“Oh… itu… Stefanny, aku pergi dulu ya”, kata kokoku dengan suara yang pelan.

“Iya…”, kata Cie Stefanny dengan suara yang tak kalah pelannya.

Mereka semua keluar menuju ke garasi, dan aku dengan senang menarik Cie Stefanny pergi menuju kamarku.


“Eliza… kamu ini nakal sekali ya…”, Cie Stefanny berbisik dengan suara pelan sekali saat kami menaiki tangga, tapi aku bisa merasakan kalau Cie Stefanny mengatakan hal itu dengan gemas sekali.

Aku hanya tertawa geli dan terus menuju kamarku. Setelah kami masuk dan aku mengunci kamar, tiba tiba saja Cie Stefanny memelukku dari belakang dan menyusupkan kedua tangannya, mencari dan meremas kedua payudaraku dengan lembut.

“Ouw… Cie…”, aku mengeluh, terangsang.

“Anak nakal… sekarang kamu Cie Cie hukum”, desah Cie Stefanny di sela nafasnya yang memburu.

“Ampun Ciee…”, aku menggeliat terbakar gairah ketika Cie Stefanny yang tak melepaskan remasannya pada kedua payudaraku, menarik tubuhku sampai ke tepi ranjang.

“Enak aja kamu minta ampun… udah bikin Cie Cie malu tadi…”, kata Cie Stefanny gemas dan memperkuat remasannya pada kedua payudaraku.

“Aduuh… mmmh… malu kenapa Cie…”, aku merintih tapi masih juga nekat menggoda Cie Stefanny.

“Kamu iniii… masih pakai nanya lagi… awas ya…”, Cie Stefanny menarikku sampai kami berdua jatuh terduduk di atas ranjangku dan kini tubuhku ada di pangkuan Cie Stefanny. ©kisahbb

Aku sama sekali tak berniat kabur, kubiarkan Cie Stefanny memelukku dan meremasi kedua payudaraku.

Malah tubuhku kusandarkan pada Cie Stefanny, dan kupegang kedua punggung telapak tangan Cie Stefanny yang masih meremasi kedua payudaraku dengan lembut. Dada Cie Stefanny yang menempel di punggungku membuatku bisa merasakan degup jantung Cie Stefanny yang begitu cepat. Aku sendiri juga dalam keadaan yang sama, bedanya aku lebih bisa menguasai diriku, setelah beberapa kali aku harus pasrah ‘diperkosa’ Sherly dan Jenny. Mungkin gara gara perbuatan mereka berdua itu, hingga membuatku menjadi suka dengan sesama wanita seperti ini.

Sudah sejak tadi sebelum les, aku menahan gairahku untuk bermesraan dan bercinta dengan Cie Stefanny. Sedangkan Cie Stefanny sendiri tampaknya masih canggung dan malu malu, sama seperti diriku waktu pertama kali digoda Sherly, lalu Jenny. Aku bisa merasakan tangan Cie Stefanny agak gemetar waktu meremasi kedua payudaraku ini.

Maka aku memutuskan untuk ‘memaksa’ Cie Stefanny bermesraan denganku.

Kutarik lepas kedua tangan Cie Stefanny dari payudaraku, lalu aku membalik badan dan menarik lepas baju rumahan yang kukenakan, tentu saja kemudian aku juga menarik lepas baju yang dikenakan Cie Stefanny. Mudah saja aku melakukannya, karena baju rumahanku memang longgar untuk ukuran tubuhku, sedangkan ukuran tubuh Cie Stefanny sama sekali tak beda dengan ukuran tubuhku.

Selain itu memang tak ada perlawanan dari Cie Stefanny yang sudah pasrah. Muka Cie Stefanny semakin merah ketika aku merangkulkan tanganku ke belakang punggung Cie Stefanny, melucuti bra yang dikenakannya.

“Cie Cie takut ya”, aku berbisik mesra pada guru lesku ini sambil membuang bra itu ke samping ranjang.

“Mmm… nggak tau…”, Cie Stefanny hanya menggeleng lemah dengan ragu.

Perlahan aku meraih celana dalam Cie Stefanny dengan kedua tanganku. Setelah jari jari tanganku mengait bagian celana dalam di kedua pinggangnya, kutarik lepas ke bawah dengan perlahan. Aku tahu ini akan membuat Cie Stefanny sangat terangsang, ditelanjangi secara perlahan seperti ini.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny.

“Iya Cie…”, aku pura pura perhatian dan bertanya, tapi aku terus melorotkan celana dalam Cie Stefanny sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yang indah ini.

“Cie Cie ini mau kamu apain…”, tanya Cie Stefanny dengan suara bergetar sambil memejamkan matanya.

“Eliza mau liat Cie Cie nggak pakai baju. Boleh kan Cie?” tanyaku dengan manja.

Cie Stefanny hanya diam dan menggigit bibirnya.

“Tapi kalau Cie Cie masih virgin, Eliza pasangkan lagi celana dalam ini, Cie”, kataku sekalian memastikan apakah Cie Stefanny masih virgin atau tidak.

“Nggak… Cie Cie udah nggak…”, Cie Stefanny menggeleng lemah, matanya tetap terpejam.

Aku membuang celana dalam itu ke samping ranjang, lalu aku merangkak, lututku sengaja kutempelkan di depan selangkangan Cie Stefanny yang sudah terbaring pasrah di atas ranjangku. Tanpa menindih tubuh Cie Stefanny, perlahan aku membelai wajah guru lesku yang cantik ini dengan kedua tanganku.

Kurasakan tubuh Cie Stefanny menegang sesaat, tapi kembali melemas.

Dengan nafas yang mulai memburu, aku melanjutkan belaianku ke bawah, menyusuri leher Cie Stefanny yang mulus dan jenjang ini perlahan, menggunakan semua ujung jari tanganku. Cie Stefanny hanya mendesah dan matanya tetap terpejam pasrah.

Kini aku membelai pundak Cie Stefanny, kemudian lengan bagian luar dan terus ke bawah. Aku menikmati pemandangan di depanku, ekspresi wajah Cie Stefanny yang seperti menahan sakit, dengan bibirnya yang terkatup erat sejak tadi itu terbuka sedikit. Aku menemukan telapak tangan Cie Stefanny, dan setelah kugenggam lembut, kami saling meremas jemari tangan kami.

Aku merentangkan tangan Cie Stefanny, lalu menekuk tangannya ke atas. Kulepaskan genggamanku, lalu aku menyusuri kulit lengan itu perlahan, kembali ke bagian dada Cie Stefanny.

“Ohh…”, Cie Stefanny merintih pelan.

“Kenapa Cie…”, tanyaku dengan mesra.

“Kamu nakal… sayang…”, desah Cie Stefanny.

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, dan jari tanganku terus kugerakkan melingkari payudara Cie Stefanny. Kini tubuh Cie Stefanny mulai menggeliat pelan. Aku tahu Cie Stefanny menginginkan sentuhan ataupun rangsangan pada kedua puting payudaranya, tapi aku sengaja menurunkan belaianku ke bawah tanpa menyentuh puting payudara Cie Stefanny.

“Mmmh…”, Cie Stefanny merintih dan menatapku seperti kecewa and memohon, membuatku harus sekuat tenaga menahan gairahku untuk tidak langsung mencumbui Cie Stefanny.

Sekarang ini aku ingin menggoda Cie Stefanny sampai terangsang dahulu, supaya nanti ketika kami bercinta, Cie Stefanny tak lagi canggung ataupun malu malu. Aku yakin ini pengalaman pertama Cie Stefanny bercinta dengan sesama wanita, dan aku ingat keadaanku dulu. Butuh waktu yang cukup lama sebelum aku bisa membalas kemesraan Sherly dan Jenny.

Aku ingin Cie Stefanny terbiasa dengan hal ini, supaya nanti aku bisa bercinta sepuas puasnya dengan guru lesku yang cantik ini.

Kini perut Cie Stefanny yang rata ini kubelai dengan lembut, sementara pemiliknya hanya bisa menggeliat lemah. Dan ketika belaianku sampai ke pangkal paha Cie Stefanny, aku sedikit menggerakkan lututku ke depan sesaat, menekan vagina Cie Stefanny hingga guru lesku ini langsung merintih dan mendesah, tubuhnya mengejang lemah.

Kemudian aku merangkak mundur, karena aku akan melanjutkan membelai kedua kaki Cie Stefanny. Tapi tentu saja aku tak lupa menggoda Cie Stefanny dulu. Tanpa sekalipun menyentuh liang vagina milik Cie Stefanny, aku menggerakkan jemariku melingkari sekitar bibir liang vagina itu, dan sesekali kutekan dengan lembut.

“Oooh…”, Cie Stefanny mengerang pelan.

Ternyata memang itu sudah lebih dari cukup, Cie Stefanny mulai menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri perlahan, dengan kepalanya yang sedikit terangkat Cie Stefanny menatapku dengan pandangannya yang memelas, seperti memohon padaku untuk memberikan sentuhan jariku pada bibir liang vaginanya.

Aku tak berniat mengabulkan permohonan Cie Stefanny secepat itu. Aku ingin menggodanya sampai gairahnya benar benar memuncak dan membangkitkan sisi liar Cie Stefanny. Kini aku mulai membelai kedua paha Cie Stefanny perlahan sementara Cie Stefanny mulai menggigil terangsang.

Aku tak perduli dan belaian jemariku sudah sampai di ujung jari kaki Cie Stefanny. Dengan lembut aku menyentuh tiap bagian di antara jari kaki Cie Stefanny, membuat guru lesku ini semakin menggeliat.

“Eliza… kamu…”, keluh Cie Stefanny, pastinya antara geli dan terangsang.

Aku menatap Cie Stefanny mesra tanpa menjawab, dan Cie Stefanny yang dadanya sudah naik turun karena nafasnya yang mulai tak beraturan itu hanya memalingkan wajahnya yang merona merah, pasrah membiarkan aku mempermainkan gairahnya sesuka hatiku.

Aku merasa Cie Stefanny masih terlalu malu untuk mengekspresikan gairahnya. Tapi aku tak menyerah, aku kembali melanjutkan belaian jemariku ke atas, dan sekali ini aku mulai menggunakan telapak tanganku.

Kedua betis Cie Stefanny yang pertama menjadi sasaranku, kubelai dengan lembut dan akhirnya belaian tanganku sampai ke bagian ke belakang lutut Cie Stefanny.

“Sshh…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

Aku merasakan kedua kaki Cie Stefanny sudah mulai mengejang perlahan, dan aku melanjutkan ke bagian paha, dan terus ke atas. Aku sempat membelai bibir vagina Cie Stefanny dengan gerakan seperti tidak sengaja.

“Eliza…”, desah Cie Stefanny sambil menatapku.

“Iya Cie…”, aku menjawab pelan dengan suara yang sedikit bergetar.

Aku sendiri sebenarnya juga sedang diamuk gairaku sendiri. Tapi kelihatannya Cie Stefanny sudah tak tahan lagi, tiba tiba ia meraih tubuhku dan memeluk erat. Belum lagi aku bereaksi, bibirku sudah dipagut dengan ganas oleh Cie Stefanny.

“Mmmh…”, aku merintih mesra dan membalas ciuman ini dengan sepenuh hati.

Kudorong Cie Stefanny sampai kembali terbaring di ranjangku. Kini aku menindih Cie Stefanny, dengan kedua payudara kami saling menggesek dan sesekali puting payudara kami saling bersentuhan.

Akibatnya gairah kami makin menjadi jadi. Cie Stefanny menjepit paha kiriku di antara kedua pahanya, aku sendiri balas menjepitkan paha kananku hingga kami seperti sedang bergulat. Perlahan kurasakan liang vagina Cie Stefanny yang sudah mulai membasah itu bergesekan dengan pahaku.

Kini saatnya aku menggoda liang vagina Cie Stefanny. Selagi kami masih asyik berpagut, kuturunkan tangan kiriku mencari bibir vagina Cie Stefanny. Begitu jari telunjukku menemukan bibir vagina Cie Stefanny, segera kucelupkan perlahan.

“Angghk…”, Cie Stefanny melenguh kaget dan menggeliat.

Pelukan Cie Stefanny terlepas. Aku mulai menggunakan tangan kananku untuk membelai dan meremas kedua payudara Cie Stefanny bergantian. Dan yang pasti jari telunjuk kiriku terus kudorong masuk sampai terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Cie Stefanny.

Hangat… licin… dan yang terutama denyutan denyutan dalam liang vagina Cie Stefanny benar benar membuatku makin bergairah dan tanpa bisa kutahan lagi, tanganku yang masih menempel di atas payudara Cie Stefanny kuremaskan dengan kuat pada payudara Cie Stefanny hingga guru lesku ini kembali menggeliat.

“Aduuh… Eliza… sakit…”, keluh Cie Stefanny, dan aku sudah bisa merasakan nada manja dari suara Cie Stefanny.

“Mana yang sakit Cie…”, tanyaku dengan nada menggoda.

Cie Stefanny menatapku dengan gemas, dan tiba tiba kedua tangan Cie Stefanny bergerak, dan sekarang kedua payudaraku balik diremas oleh Cie Stefanny.

“Oooh… Cieee…”, aku mengeluh terangsang.

Tak hanya remasan yang kurasakan, kini kedua putingku rasanya seperti terjepit. Aku melihat sejenak, ternyata kedua puting payudaraku dijepit jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan Cie Stefanny, sementara tiga jari lainnya memberikan tekanan pada masing masing bukit payudaraku, seperti sedang meremas saja.

Dan untuk makin menyiksaku, kedua jari tangan Cie Stefanny itu tak hanya menjepit puting payudaraku, tapi mulai memilin milin hingga aku mulai merintih dan terangsang hebat. Aku sudah tak tahan lagi, dan aku kembali menatap Cie Stefanny, kali ini ganti aku yang memelas.

“Cie… cium Eliza dong”, aku merintih dan memohon, tangan kananku terkulai lemas ke bawah karena tenagaku sekarang ini entah lenyap ke mana.

“Iya sayang…”, desah Cie Stefanny, yang kemudian lebih menekuk siku tangannya hingga tubuh kami kembali menyatu.

Kami kembali saling berpagut mesra, tanpa lupa untuk terus saling merangsang. Cie Stefanny masih terus mempermainkan kedua payudaraku juga putingnya, sementara aku kembali meliuk liukkan jari telunjuk tangan kiriku dalam liang vagina Cie Stefanny.

“Ooh… sayang… kamu nakal…”, Cie Stefanny merintih ketika aku mempercepat gerakkan jari telunjuk tangan kiriku dan terus mengaduk liang vagina Cie Stefanny.

“Cie Cie juga…”, aku sendiri juga merintih mesra dan melingkarkan tangan kananku di belakang bahu Cie Stefanny.

“Ngghh…”, Cie Stefanny melenguh ketika aku menusukkan jariku sambil mengait dinding liang vaginanya.

Kini Cie Stefanny sudah mulai tak mampu menguasai dirinya. Tubuhnya tertekuk ke belakang sesaat dan roboh terbaring ke ranjang ketika aku terus menggoda liang vaginanya. Kedua kakinya tertekuk sedikit, dan sesekali mengejang. Cairan cinta Cie Stefanny mulai membasahi liang vaginanya. Aku tahu sekarang ini Cie Stefanny tidak akan merasa begitu sakit kalau aku mengikutkan jari tengahku untuk mengaduk aduk liang vaginanya.

“Kamu… kamu mau apa Eliza…”, rintih Cie Stefanny ketika ujung jari tengahku mulai menguak membuka jalan ke liang vaginanya yang sudah menampung jari telunjukku.

“Nggak apa apa Cie… ini nggak sakit kok…”, aku mendesah dalam keadaan terbakar gairah dan memang sekarang ini jalan masuk ke dalam liang vagina Cie Stefanny sudah begitu licin, dan dengan mudah aku mencelupkan jari tengahku bersama jari telunjukku ke dalam liang vagina guru lesku ini.

“Angghk…”, Cie Stefanny kembali melenguh.

Aku mendiamkan kedua jariku sejenak supaya Cie Stefanny bisa beradaptasi. Sementara itu aku beranjak dan berbaring miring di samping Cie Stefanny, tentu saja dengan kedua jariku yang masih tercelup mengait liang vagina Cie Stefanny.

“Sakit ya Cie…”, aku berbisik menggoda Cie Stefanny.

“Iya…”, keluh Cie Stefanny dengan manja.

“Tapi enak kan Cie…”, kataku sambil mulai mengaduk liang vagina Cie Stefanny dengan kedua jariku.

“Auww… iyaah…”, erang Cie Stefanny keenakan dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku, dan menggeliat pasrah.

Aku menggunakan kesempatan ini untuk mengecup lembut mata Cie Stefanny yang terpejam erat. Tak ada lagi perlawanan dari Cie Stefanny yang kini tubuhnya mengejang hebat dalam pelukanku. Cie Stefanny sudah berhenti meremasi kedua payudaraku, sekarang ia hanya bisa merintih dan mendesah, bergulat dengan kenikmatan yang mendera liang vaginanya.

Berulang kali tubuh Cie Stefanny tersentak ketika aku mulai menirukan gerakan kaki orang berjalan dengan kedua jariku yang masih terbenam dalam liang vaginanya.

“Aduh… Elizaa… Cie Cie… mau… pipis… ngghhh…”, Cie Stefanny melenguh panjang, dan tubuhnya mengejang berulang ulang.

Rupanya Cie Stefanny sudah dilanda orgasmenya. Cairan cintanya membanjir dan membuat liang vagina guru lesku ini begitu becek. Aku sama sekali tak menurunkan kecepatan adukan jari tanganku pada liang vaginanya hingga terdengar bunyi kecipak cairan cinta Cie Stefanny yang teraduk aduk itu, di antara desahan dan lenguhan yang amat sexy dan menggairahkan itu.

“Eliza… sebentar… berhentii… duluu… angghhk…”, Cie Stefanny terus merengek dan memohon, tapi tak ada yang bisa dilakukan Cie Stefanny selain melenguh ketika aku malah menyusu pada puting payudaranya yang kiri.

Tubuh Cie Stefanny terus menggelepar dan mengejang, karena aku sama sekali tak menghentikan adukan kedua jari tanganku di dalam liang vaginanya. Selain itu aku malah mencumbui kedua payudara Cie Stefanny dengan nakal.

“Ngghh… sudah… Elizaa… ampun…”, Cie Stefanny melenguh tanpa daya, tubuhnya mengejang dan tertekuk sexy, kemudian kurasakan cairan cintanya kembali membanjir, sementara kedua betis Cie Stefanny melejang tak karuan.

Aku kasihan juga melihat Cie Stefanny didera multi orgasme. Kedua jariku kini kudiamkan terbenam dalam liang vagina Cie Stefanny, menikmati setiap denyutan otot liang vagina Cie Stefanny.

Kulumanku pada puting payudara Cie Stefanny juga kuhentikan, kini aku menikmati pemandangan indah di depanku, wajah Cie Stefanny yang menggambarkan dengan jelas kalau dirinya terangsang hebat, dengan matanya yang terpejam erat dan nafasnya yang tersengal sengal, sedang pasrah menghadapi semua kenakalanku.

Tubuh Cie Stefanny berkeringat banyak sekali, dan sesekali Cie Stefanny mendesah. Aku memeluk guru lesku yang sejak hari ini pasti menjadi guru les kesayanganku ini.

“Cie… capai ya…”, tanyaku dengan mesra.

“Mmm…”, Cie Stefanny masih terlalu lemas untuk menjawab.

Perlahan aku menarik lepas jariku dari jepitan liang vagina Cie Stefanny. Aku melihat kedua paha Cie Stefanny mengejang tepat ketika ujung jariku keluar dari jepitan liang vaginanya. Benar benar satu pemandangan yang membangkitkan gairahku, membuatku ingin menggoda Cie Stefanny.

Perlahan aku bergerak ke arah selangkangan Cie Stefanny. Selagi mata guru lesku ini masih terpejam, aku mendekatkan wajahku ke liang vaginanya.

“Ngghkk… auww…”, Cie Stefanny kembali melenguh sejadi jadinya ketika aku mencucup bibir vaginanya guru lesku ini.

Aku terus menyeruput cairan cinta Cie Stefanny sepuas puasnya sampai tak tersisa, sementara Cie Stefanny terus menggelinjang kegelian dan menggelepar keenakan.

“Sayang… Cie Cie udah nggak kuat…”, erang Cie Stefanny memelas.

“Udah selesai kok Cie…”, kataku sambil menindih tubuh Cie Stefanny.

“Ooh…”, keluh Cie Stefanny dengan manja ketika aku memeluknya mesra.

“Eliza sayang Cie Cie…”, kataku pelan sambil menatap mata Cie Stefanny dengan sayu.

“Cie Cie juga sayang kamu… anak nakal…”, bisik Cie Stefanny lemah sambil melingkarkan kedua tangannya ke belakang punggungku.

Belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku membuatku makin merasa nyaman. Aku menyusupkan wajahku di dalam rambut Cie Stefanny yang terhampar di sisi kiri kepalanya. Walaupun bercampur keringat saat kami bercinta tadi, baunya wangi menyenangkan, membuatku ingin tidur dalam posisi seperti ini.



Agak lama kami saling berdiam diri dalam posisi seperti ini, kini nafas kami sama sama mulai teratur. Tapi kami masih berpelukan dengan mesra, dengan posisi tubuhku yang menindih Cie Stefanny. Sesekali aku mencium bibir Cie Stefanny yang cuma bisa pasrah menghadapi kenakalanku ini. Tapi setiap ciumanku selalu berbalas, dan aku menikmati belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku dan juga punggungku.

“Eliza… sekarang kamu mau cerita nggak, kenapa kamu hari ini jadi nakal seperti ini dan mengajak Cie Cie bercinta?”, tanya Cie Stefanny dengan lembut sambil menyibakkan sebagian rambutku yang tergerai jatuh menutup keningku.

Aku mengangkat kepalaku, dan mengecup bibir Cie Stefanny dengan mesra sebelum aku beranjak dari tubuh Cie Stefanny dan berbaring di sisi kiri Cie Stefanny. Sempat aku menerawang sejenak, baru kemudian aku menoleh ke kanan menatap Cie Stefanny.

“Tadi, yang Eliza pulang telat itu… waktu Cie Cie memeluk Eliza…”, aku menguatkan hatiku dan mulai bercerita.

Cie Stefanny tersenyum manis sekali, tapi ia menatapku dengan sungguh sungguh, terlihat sekali kalau ia siap untuk mendengarkan semua ceritaku.

“Eliza nggak pakai bra, Cie”, aku menunduk, ingin sekali menyembunyikan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.

“Jadi, tadi itu terasa sekali tekanan dari payudara Cie Cie di sini…”, kataku pelan sambil menggerakkan tangan kiriku untuk menunjuk ke arah puting payudaraku.

Cie Stefanny tertegun menunggu kelanjutan ceritaku, sedangkan aku dengan perasaan yang campur aduk meneruskan ceritaku.

“Eliza tadi nggak pakai bra, soalnya tadi waktu di tempat tambal ban…”, aku memejamkan mata dan mulai menangis.

“Sayang, kalau kamu nggak mau cerita… jangan dipaksa”, bisik Cie Stefanny lembut dan memelukku dengan sayang.

“Eliza diperkosa Cie…”, aku berkata di antara tangisku.

“Oh… sayang…”, kata Cie Stefanny sambil memelukku, dadanya Cie Stefanny berguncang karena sekarang Cie Stefanny juga menangis.

Aku jadi semakin sedih. Kubenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny, lalu aku menangis sejadi jadinya. Hatiku pedih sekali mengingat nasibku yang sedemikian buruk ini, berkali kali jatuh ke dalam pemerkosaan oleh berbagai orang, tanpa bisa berbuat apa apa.

Memang aku selalu orgasme dalam setiap perkosaan yang menimpaku, tapi itu lebih karena aku berusaha untuk tidak makin menyakiti hatiku dan membuang pikiran kalau aku ini sedang diperkosa. Toh rela ataupun tidak, tak ada yang bisa kulakukan dan aku tetap akan diperkosa. Maka daripada aku makin tersiksa, aku memilih pasrah memberikan tubuhku, bahkan aku cenderung berusaha menikmatinya.

Akibatnya aku malah selalu terangsang dan orgasme di tangan para pemerkosaku, bahkan tak jarang aku mempermalukan diriku di hadapan mereka. Sudah berkali kali tubuhku bergerak di luar kendaliku untuk memuaskan hasrat tubuhku sendiri saat aku ditenggelamkan dalam lautan kenikmatan oleh para pemerkosaku, membuatku benar benar terlihat seperti perempuan yang kegatalan atau haus seks, dan juga membuatku tak beda dengan pelacur.

Tapi kalau dalam keadaan tenang dan akal sehatku berjalan seperti ini, tetap saja aku merasa sedih sekali merenungkan keadaanku. Entah sudah sekotor apa diriku ini, yang sudah berkali kali dinodai siraman sperma dari para pemerkosaku. Aku makin sedih dan tangisanku semakin menjadi. Entah berapa lama, belaian lembut Cie Stefanny pada rambutku perlahan membuatku menjadi tenang kembali.

Setelah kami berdua sama sama bisa menguasai diri, aku membenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.

“Eliza…”, kata Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

Aku menumpahkan semua isi hatiku dan mulai menceritakan pada Cie Stefanny, bagaimana aku harus kehilangan keperawananku karena diperkosa ramai ramai di UKS, kemudian sopir dan dua pembantuku yang jadi keranjingan menikmati tubuhku.

Aku tidak menceritakan tentang pemerkosaan yang menimpaku di rumah Jenny, karena aku tak ingin menyangkutkan Jenny yang waktu itu dibantai bersamaku. Aku juga memilih tak menceritakan kekurangajaran tukang sapu di sekolah baletku ataupun perselingkuhan Cie Elvira. Aku hanya menceritakan pertama kalinya aku merasakan berciuman dengan seorang wanita, yaitu Cie Elvira.

“Jadi sejak itu kamu jadi suka sama sesama wanita ya”, goda Cie Stefanny.

“Yee… Cie Cie jahat… enggak Cie, belum”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Jadi sejak kapan kamu jadi begini?”, tanya Cie Stefanny dengan cukup penasaran.

“Ada teman sekolah Eliza, Cie. Namanya Sherly. Orangnya cantik sekali, dan suatu hari waktu Eliza ngembalikan buku ke rumahnya, tiba tiba dia menciumi Eliza…”, kataku sambil senyum senyum sendiri.

“Anak nakal… jadi sekarang Cie Cie kamu jadikan korban pelampiasanmu ya…”, kata Cie Stefanny gemas sambil mencubit kedua pipiku.

“Auww… ampun Cie…”, aku merintih manja.

“Abisnya Cie Cie cantik sih…”, kataku sambil menatap nakal pada Cie Stefanny sambil memegangi kedua pipiku yang terasa panas akibat cubitan Cie Stefanny.

Cie Stefanny mengecup kedua mataku mesra, dan aku memejamkan mataku menikmati cumbuan guru lesku yang cantik ini.

“Nah, lebih parah lagi, suatu hari itu Eliza, Jenny, Sherly, juga tiga teman Eliza yang lain berlibur. Pertama itu Sherly yang nggodain dan menciumi Eliza, dan Eliza cuma bisa pasrah. Tapi Eliza nggak nyangka kalau Jenny melihat semua itu. Dan waktu kami pulang liburan, Jenny juga ikut ikutan menciumi Eliza. Yah… akhirnya Eliza jadi seperti ini Cie”, kataku sambil terus menatap Cie Stefanny

Sekali ini Cie Stefanny sudah tak lagi canggung dan mau balas menatapku dengan mesra selagi aku menceritakan bagaimana aku bermesraan habis habisan dengan Sherly di vila, kemudian saling melumat bibir dengan Jenny di depan rumahnya, dan dari awal yang canggung, aku jadi terbiasa untuk bermesraan dengan kedua temanku ini.

“Terus, kenapa tiba tiba kamu mengajak Cie Cie bercinta… Cie Cie kan nggak melakukan apa apa selain memeluk kamu…”, tanya Cie Stefanny yang masih penasaran.

“Kalau puting payudara Cie Cie ditekan seperti ini…”, kataku sambil beranjak duduk lalu menekan kedua puting payudara Cie Stefanny yang masih menyembul itu.

“Sshhh…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

“Nah gitu deh Cie, terus yang menekan punya Eliza tadi itu cewek yang cantik seperti Cie Cie. Apalagi Cie Cie terlihat sexy dengan rambut sedikit basah tadi, ya udah…”, kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajah Cie Stefanny, lalu aku balas mengecup kedua matanya.

“Mmmh… kamu ini nakal ya… Tadi itu Cie Cie sampai kaget setengah mati waktu kamu menciumi dan menerkam Cie Cie seperti itu. Untungnya yang memperkosa Cie Cie itu cewek yang cantik seperti kamu, jadi Cie Cie rela deh…”, kata Cie Stefanny sambil tersenyum manis.

“Cie Cie baru pertama kali ya digodain cewek?”, tanyaku mencoba menebak.

“Bukan cuma pertama kali digodain cewek. Selama ini Cie Cie cuma tahu tentang orgasme wanita dari membaca artikel di majalah kesehatan ataupun internet, tapi baru tadi itu Cie Cie merasakan bagaimana rasanya orgasme, sayang”, kata Cie Stefanny sambil menggigit bibirnya.

“Ohh… tapi Cie Cie… oh nggak kok, tadi nggak ada darah”, aku sempat merasa ngeri kalau kalau ternyata tadi itu aku merenggut keperawanan Cie Stefanny, tapi aku ingat tak ada bekas darah di jariku, ataupun rasa amis darah ketika aku menyeruput cairan cinta dari liang vagina Cie Stefanny tadi.

“Cie Cie udah nggak virgin kok sayang… Valentine Day tahun ini, Cie Cie sudah pernah bersetubuh, lebih tepatnya dipaksa…”, kata Cie Stefanny sambil menerawang.

“Ko Melvin ya, Cie?”, aku bertanya dengan hati hati.

“Iya… Melvin memaksa Cie Cie, merayu Cie Cie, pokoknya segala macam cara dan alasan dia pakai, sampai akhirnya Cie Cie luluh, lagipula waktu itu Cie Cie juga takut kehilangan Melvin”, kata Cie Stefanny datar, tapi kurasakan kesedihan dalam suara Cie Stefanny.

Aku memeluk Cie Stefanny, ingin sekali aku mengurangi kesedihan Cie Stefanny.

“Setelah Melvin berhasil membuat Cie Cie menyerahkan tubuh Cie Cie, Melvin ninggalin Cie Cie begitu saja. Ditelepon selalu sibuk, di SMS nggak pernah dibalas, kalau ketemu di kampus selalu menghindar, pokoknya Melvin itu jelas jelas menunjukkan kalau dia menghindari Cie Cie… dan sudah nggak mau berhubungan lagi dengan Cie Cie…”, kata Cie Stefanny, sekali ini air matanya meleleh dan Cie Stefanny mulai terisak pelan.

“Akhirnya Cie Cie menyerah, lalu Cie Cie memutuskan hubungan dengan Melvin. Sakit rasanya, Eliza. Tapi itu adalah yang terbaik”, kata Cie Stefanny dengan suara serak.

Aku tak tahu harus berkata apa, perasaanku benar benar campur aduk. Di satu sisi aku amat membenci perbuatan Ko Melvin yang sangat egois itu, sedangkan di sisi lain aku merasa harapanku semakin besar bisa terkabul, untuk mendekatkan Cie Stefanny dengan kokoku. Tapi saat ini, aku hanya bisa ikut sedih dan menangis bersama Cie Stefanny.

Aku terus memeluk Cie Stefanny sampai akhirnya Cie Stefanny mulai tenang kembali. Sementara itu aku diam dan merenung. Apakah semua laki laki seperti itu? Apakah Andi juga akan seperti itu?

Beberapa saat kemudian, akhirnya Cie Stefanny sudah bisa menguasai dirinya, lalu mulai melanjutkan ceritanya.

“Belum lagi hilang sakit hatinya Cie Cie ini, hampir sebulan kemudian…”, keluh Cie Stefanny dan menceritakan tentang Caroline, adik perempuan Cie Stefanny yang baru saja berumur 20 tahun, dan masih kuliah semester V di universitas ternama di Surabaya.

“Malam itu Cie Cie keluar kamar, mau ambil minuman di kulkas. Dan waktu itu Cie Cie melihat Caroline berjalan menuju pintu belakang. Penasaran, Cie Cie ke balik pintu dan mengintip apa yang akan dilakukan Caroline. Waktu Cie Cie melihat Caroline masuk begitu saja ke dalam kamar para pekerja mebel di rumah Cie Cie, rasanya jantung Cie Cie ini seperti berhenti”, Cie Stefanny menghentikan ceritanya sebentar dan memandangku sambil menarik nafas panjang.

“Cie Cie mendekat dan mengintip dari jendela kamar itu. Di dalam sana, Cie Cie melihat Caroline digumulin empat pekerja itu, shock rasanya melihat semua itu Eliza…”, kata Cie Stefanny yang kini jadi menerawang, seperti sedang membayangkan dan mengingat kejadian itu dalam pikirannya.

“Cie Cie akhirnya masuk ke dalam kamar Caroline, dan duduk di ranjangnya menunggu dia kembali. Satu jam baru akhirnya Caroline masuk, dan Cie Cie langsung bertanya tentang apa yang Cie Cie lihat itu. Dan Caroline… dia menangis dan menceritakan semuanya… Awal tahun ini, dua minggu setelah Caroline berulang tahun ke 20, ganti Cie Cie yang berulang tahun…”, Cie Stefanny menunduk sejenak, tapi aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang sendu.

“Cie Cie nungguin Caroline, ingin mengajaknya makan kue ulang tahun pemberian Melvin, tapi Caroline malah pulang tengah malam dari dugem, dalam keadaan setengah mabuk lagi”, Cie Stefanny kembali menarik nafas panjang, sekali ini kesedihan yang amat dalam kembali terpancar dari wajahnya yang cantik.

“Caroline… kamu anak bodoh…”, Cie Stefanny mengeluh dan mulai terisak.

Terlihat jelas sekali kalau Cie Stefanny amat kesal dan sedih. Cie Stefanny menggigit bibir sementara air matanya meleleh.

“Dia takut ketahuan Cie Cie kalau mulutnya berbau alkohol… dia malah mengambil jalan belakang. Dan waktu itu salah satu pekerja mebel di rumah Cie Cie melihat Caroline, yang pasti wajahnya merah karena pengaruh alkohol. Tepat ketika Caroline akan masuk ke rumah dari pintu belakang. Caroline ditangkap, mulutnya dibekap, lalu dia diseret ke kamar mereka”, kata Cie Stefanny dengan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipinya. ©kisahbb

“Bajingan bajingan itu tahu betul, papa dan mama memang tidak mengijinkan anak anaknya pergi dugem apalagi pulang larut malam seperti itu. Mereka sempat bercerita pada Caroline, papa pernah mengobrol dengan temannya di tempat mereka berkerja, tentang ketidak sukaan papa dan mama terhadap anak anak jaman sekarang yang suka dugem dan pulang larut malam.”, Cie Stefanny menggigit bibir sesaat di antara tangisnya.

“Dan di sana Caroline diancam akan dilaporkan ke papa, mama atau Cie Cie, kalau Caroline nggak mau menuruti nafsu bejat mereka. Caroline… dia diperkosa dalam keadaan setengah mabuk… dan sampai sekarang Caroline diperlakukan seperti budak mereka, . Oh… Eliza… kalau saja waktu itu Cie Cie nggak nungguin Caroline, harusnya ini nggak perlu terjadi…”, Cie Stefanny menangis dengan penuh penyesalan.

Tak ada yang bisa kulakukan selain menggigit bibir dan memeluk Cie Stefanny erat erat sambil menangis sedih.

“Dan harusnya Caroline itu nggak perlu takut ketemu sama Cie Cie waktu itu… Oh Tuhan… kenapa harus jadi seperti ini… Cie Cie merasa bersalah sekali sama Caroline…”, Cie Stefany memelukku dan tangisannya makin menjadi jadi, membuat hatiku rasanya seperti teriris karena tak ada yang bisa kulakukan untuk mengibur Cie Stefanny, juga melihat nasib adik Cie Stefanny yang tak lebih baik dariku.



Tak ada lagi cerita. Kami berdua tenggelam dalam duka. Tentu saja aku tak ingin malam ini kami lewatkan dengan menangis dalam penyesalan, aku mencoba mencairkan suasana ini.

“Cie… Eliza buatin sereal yah”, kataku pelan.

“Nggak usah deh sayang… kok malah ngerepotin kamu…”, jawab Cie Stefanny.

“Nggak repot kok Cie… kalau repot Eliza juga nggak mau buatin”, kataku mencoba mengajak Cie Stefanny bercanda. ©kisahbb

“Ya udah anak nakal… kalau kamu nggak repot, Cie Cie mau…”, kata Cie Stefanny sambil membelai pipiku dengan sayang.

Aku bangkit berdiri dan mengenakan bra dan baju rumahku. Sebenarnya reflek saja aku mengenakan bra, karena memang aku biasa memakai bra dan celana dalam walaupun aku berada di dalam rumah. Tapi ketika Cie Stefanny ikut berdiri dan hendak memakai bra dan celana dalamnya, aku langsung merengek.

“Cie… jangan… Cie Cie nggak boleh pakai…”, aku mendekati Cie Stefanny dan memegang kedua tangannya.

“Kamu… Sayang… ini kan nggak adil… masa kamu boleh pakai baju tapi kamu suruh Cie Cie telanjang terus?”, tanya Cie Stefanny dengan pura pura kesal.

“Eliza kan mau turun. Nanti Eliza juga nggak pakai bra kok… pokoknya Cie Cie jangan pakai ya…”, aku terus merengek dan pura pura merajuk sambil memeluk Cie Stefanny yang masih telanjang bulat ini, lalu kupagut bibirnya dengan sepenuh hati.

“Mmmh…”, Cie Stefanny merintih mesra dan membalas pagutanku.

Setelah puas saling berpagut bibir dengan Cie Stefanny, barulah aku melepaskan pagutanku, sementara Cie Stefanny menatapku dengan tatapan orang dewasa terhadap anak kecil yang nakal.

“Cie… Eliza mau turun buatin sereal… Cie Cie kunci pintunya dulu ya… nanti kalau Eliza udah mau masuk, Eliza panggil Cie Cie… tapi janji ya Cie Cie nggak boleh pakai baju”, kataku dengan tatapan nakal.

“Kamu ini memang… ya udah… terserah kamu sayang…”, kata Cie Stefanny sambil tersenyum geli.

Maka aku keluar dari kamarku dan Cie Stefanny langsung mengunci pintu. Aku tersenyum geli dan turun ke ruang makan, untuk membuat dua gelas sereal instant yang hangat. Sebenarnya aku sudah lelah dan mengantuk sekali, tapi tiba tiba saja aku jadi bergairah membayangkan betapa Cie Stefanny yang sedang telanjang bulat menunggu pasrah di kamarku. Sambil mengaduk kedua gelas sereal ini, aku memikirkan hal yang membuatku tak sabar untuk segera ke atas dan kembali bercinta dengan Cie Stefanny.

“Eh?”, aku terkejut ketika kurasakan dua tangan yang mendekap tubuhku dari belakang.

“Non… kangen…”, suara itu, aku tahu kalau suara itu milik pak Arifin.

“Mmmhh…”, aku merintih ketika kurasakan remasan yang amat kuat pada kedua payudaraku.

Aku berhenti mengaduk sereal di kedua gelas itu, bermaksud melepaskan kedua payudaraku dari remasan kedua tangan pak Arifin. Tapi ketika tanganku sudah akan meraih tangan pak Arifin, cengkeraman pada masing masing pergelangan tanganku menahan gerakan kedua tanganku ini.

Sesaat kemudian, kedua tanganku sudah terentang lebar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati Wawan dan Suwito yang sudah ikut mengerubutiku dengan pandangan yang sangat bernafsu.

“Eh… apa apaan kalian malam malam gini mpphh…”, omelanku terhenti ketika Suwito sudah melumat bibirku tanpa ampun.

Aku mulai panik ketika Wawan sudah mengangkat kaki kiriku yang kini sudah tertekuk ke atas hingga menempel di perutku. Kancing baju yang kukenakan sudah dipreteli mereka dengan cepat, sementara tangan kanan Suwito sudah menyusup masuk ke dalam celana dalamku. Jarinya yang mencari dan dengan cepat menemukan bibir vaginaku, langsung tercelup masuk dan membuatku menggeliat mengikuti irama adukan jari tangan Suwito pada liang vaginaku.

Kalau dengan keadaanku yang sudah amat lemas ini masih harus melayani mereka bertiga sekaligus seperti ini, bisa bisa mereka membuatku pingsan pingsan. Aku segera berpikir keras mencoba menghindar dari sopir dan kedua pembantuku yang sudah makin bernafsu untuk menikmati tubuhku ini.

“Engghh… kalian berhenti… besok… aku ini… ada ulangan…”, aku memohon di antara rintihanku.

Dan mereka memang langsung menghentikan rangsangan mereka terhadapku. Sekarang mereka sudah melepaskanku, tapi mereka masih mengelilingiku, membuat jantungku berdebar sedikit lebih keras, membayangkan apa yang masih akan meleka lakukan terhadapku.

“Yah… non, padahal saya sudah kangen nih”, kata pak Arifin.

“Kangen kangen… ngapain sih kalian ini malam malam gini di sini?”, aku bertanya dengan setengah kesal.

“Kan ortu dan kakak non lagi pergi, sayang dong kalau nggak pesta sama non”, kata Suwito sambil kembali meremas payudara kiriku.

“Udah… berhenti… tunggu besok juga kenapa sih? Sekarang aku masih mau belajar untuk ulangan besok pagi tau”, kataku sambil menepis tangan Suwito.

“Yah… kalau gitu cium dulu non sebelum kami tidur”, kata Wawan yang langsung meraih tubuhku dalam pelukannya dan memagut bibirku dengan sangat bernafsu.

Aku melemas dalam pelukan Wawan, membiarkan pembantuku ini melumat habis bibirku. Suwito dan pak Arifin jelas tak mau ketinggalan, mereka bergiliran melumat bibirku dengan ganas sampai nafasku tersengal sengal.

Dadaku masih naik turun ketika mereka semua selesai menikmati bibirku. Aku terduduk di kursi, mencoba mengatur nafasku sejenak.

“Non Eliza kok tidak kembali ke atas?”, tanya Suwito

“Menunggu kami cium lagi ya?”, sambung Wawan usil.

Tak ingin bibirku kembali dilumat habis, aku segera bangkit berdiri. Bukannya aku tak mau, sebenarnya aku suka suka saja diperlakukan seperti ini oleh mereka bertiga ini, tapi sekarang ini selain aku sudah kelelahan, di atas Cie Stefanny sudah menungguku.

Aku mengambil mengambil sebuah sendok teh, sebotol kecil susu kental manis dan sebotol besar air dingin. Bersama kedua gelas sereal buatanku tadi, aku letakkan semua di atas baki. Tanpa pamit pada mereka, baki ini kubawa ke atas menuju kamarku.

“Perlu bantuan non?”, tanya Suwito ketika aku sudah di tengah tangga.

Aku sempat menoleh ke arahnya dan menggeleng tegas, lalu aku terus berjalan menuju kamarku.




“Cie… ini Eliza…”, aku berkata pelan di depan pintu kamarku.

Pintu kamarku terbuka dan aku segera masuk. Cie Stefanny yang bersembunyi di balik daun pintu kamarku langsung mengunci pintu. Kutaruh baki ini di atas meja belajarku, dan kuberikan segelas sereal hangat ini pada Cie Stefanny, lalu Cie Stefanny kuajak duduk di depan meja belajar.

“Duh sayang, Cie Cie kira kamu ditangkap pembantu pembantumu tadi, abisnya kamu kok lama amat nggak kembali kembali”, kata Cie Stefanny.

“Oh, nggak kok Cie… sini… Eliza suapin ya…”, kataku sambil mulai mengambil sesendok sereal dari gelasku, lalu kusuapkan pada Cie Stefanny yang hanya tertawa geli menerima suapanku.

Berikutnya kami saling menyuapi sampai sereal di gelas kami habis, tentu saja diselingi canda tawa kami berdua. Kemudian setelah gelas gelas ditaruh di atas meja, aku melihat jam. Oh… sudah jam sembilan malam.

“Cie… bukain baju Eliza dong…”, kataku sambil memegang tangan Cie Stefanny.

“Eliza… lagi?”, Cie Stefanny mendesah pelan, ia menatapku sambil menggigit bibir dan menahan senyum.

Aku mengangguk dan terus menatap Cie Stefanny dengan sayu penuh permohonan. Cie Stefanny sempat menunduk jengah, tapi kemudian tangannya mulai bergerak melepas baju rumahku. Aku memejamkan mata menahan gairah yang makin menggelegak ini, dan aku pasrah saja ketika Cie Stefanny menuntunku dan berikutnya kami sudah sama sama terbaring di ranjang, dengan tubuhku ditindih Cie Stefanny.

“Cie…”, aku merintih ketika kedua payudaraku dibelai dengan lembut oleh Cie Stefanny.

“Sayang… kamu … cantik sekali…”, desah Cie Stefanny terputus putus di tengah nafasnya yang memburu.

Oh, senang sekali rasanya dipuji seperti ini oleh Cie Stefanny. Aku langsung memeluk dan memagut bibir Cie Stefanny, meluapkan semua gairahku. Sementara itu kurasakan kedua tangan Cie Stefanny menyusup ke belakang punggungku, dan sesaat kemudian kait bra yang kukenakan sudah terlepas.

Dengan senang hati kuangkat kedua tanganku hingga Cie Stefanny dengan mudah menarik lepas bra ini dari tubuhku. Dan seperti harapanku, Cie Stefanny sudah tak canggung lagi untuk bermesraan denganku, kini celana dalamku ditariknya lepas melewati kedua betisku, dan kami berdua sama sama telanjang bulat di atas ranjangku. ©kisahbb

“Nah anak nakal, begini baru adil… sekarang Cie Cie akan balas kamu…”, kata Cie Stefanny dengan nafas memburu dan berikutnya aku sudah ditindih oleh Cie Stefanny.

“Mmmh…”, aku merintih manja dan pasrah ketika kedua pergelangan tanganku direntangkan oleh Cie Stefanny.

Wajahku dihujani ciuman mesra Cie Stefanny, dan aku sesekali berusaha membalas. Rasa geli sekaligus terangsang membuatku lemas dalam gairahku, kubiarkan Cie Stefanny berbuat sesuka hatinya terhadap diriku.

“Oooh… Cie…”, aku menggeliat dan mengejang sesaat ketika kedua puting payudarku dicubit oleh Cie Stefanny.

“Sayang… sakit ya…”, goda Cie Stefanny.

Aku menggigit bibir dan menggeleng lemah.

“Auww… Cie… ampuun…”, aku menggeliat ketika Cie Stefanny memperkeras cubitannya pada kedua puting payudaraku.

Selagi aku memejamkan mata menahan sakit yang sebenarnya tak terlalu menyiksa ini, Cie Stefanny menghentikan cubitannya, lalu tiba tiba kurasakan kedua puting payudara dikulum bergantian oleh Cie Stefanny.

“Ssshh… aduuhh…”, aku mendesah tak karuan.

Ingin sekali rasanya sekarang ini aku menerkam Cie Stefanny, tapi aku mati matian menahan diri, supaya Cie Stefanny punya waktu untuk mengekpresikan gairahnya. Rambut Cie Stefanny yang terjatuh di dadaku ini terseret ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan kepalanya. Aku menikmati rasa geli yang ditimbulkan ujung demi ujung rambut Cie Stefanny.

“Sayang… perut kamu indah sekali…”, Cie Stefanny mengguman dan mengecup kulit perutku.

Aku tersenyum senang mendengar pujian Cie Stefanny. Kubelai rambut Cie Stefanny yang halus ini, selagi perutku dicumbui olehnya. Darahku berdesir ketika kurasakan cumbuan itu perlahan berpindah ke bawah menuju ke vaginaku.

“Mmmhh…”, aku merintih ketika kurasakan ciuman dari Cie Stefanny pada bibir vaginaku.

Cie Stefanny terus menggoda vaginaku. Kedua pahaku sudah dilebarkan oleh Cie Stefanny, dan aku hanya pasrah.

Tak ada jilatan nakal yang kurasakan, tapi setelah beberapa kali mengecup bibir vaginaku, kini jari jari tangan Cie Stefanny mulai ikut bermain. Liang vaginaku dikuak sedikit, dan ketika sebuah jari menusuk liang vaginaku dengan lembut, tiba tiba aku merasa sedikit nyeri. Mungkin karena sehari ini liang vaginaku sudah berkali kali ditembusi penis penis pemerkosaku.

“Cie… sakit…”, aku mengeluh pelan.

“Kenapa sayang…”, tanya Cie Stefanny sambil menatapku sayu.

Aku hanya menggeleng lemah sambil berusaha tersenyum. Aku jadi tak tega menolak keinginan Cie Stefanny. Biarlah, aku akan menahan rasa nyeri yang moga moga hanya sebentar ini. Mungkin kalau nanti liang vaginaku sudah basah oleh cairan cintaku, rasa nyeri yang mengganggu itu akan mereda atau bahkan hilang.

“Angghk…”, aku mengerang ketika dua jari Cie Stefanny terbenam dalam liang vaginaku.

Tubuhku mulai mengejang, antara sakit dan nikmat. Ketika dua jari itu mulai mengaduk liang vaginaku, aku mendesah dan menggeliat keenakan. Tak ada yang bisa kulakukan selain menggenggam sprei ranjangku, mencoba bertahan dari siksaan kenikmatan ini.

“Eliza… hangat sekali di dalam sini sayang…”, bisik Cie Stefanny mesra.

“Mmmh… iyah Cie…”, aku merintih malu.

Adukan jari tangan Cie Stefanny makin liar, membuatku menggigit bibir dan memejamkan mataku erat erat, sementara tubuhku menggigil merasakan ngilu yang amat nikmat pada liang vaginaku. Cairan cintaku yang sudah membasahi liang vaginaku benar benar meredakan rasa nyeri yang kurasakan sejak Cie Stefanny menyerang liang vaginaku.

“Ngghhh… Ciee…”, pinggangku sampai terangkat ketika Cie Stefanny meliuk liukkan kedua jari tangannya dalam liang vaginaku.

“Oooh… Ciee… jangan berhentii…”, aku mengeluh dan memohon ketika Cie Stefanny menghentikan gerakan jari jari tangannya yang masih terbenam dalam liang vaginaku.

“Tapi… kamu sampai kesakitan gitu sayang…”, kata Cie Stefanny dengan ragu.

“Nggaaak… nggak sakit… ayo Cie… pleasee…”, aku merengek tak ingin kehilangan kenikmatan ini.

Dua jari tangan Cie Stefanny di dalam liang vaginaku kembali bergerak, mengembalikan sensasi nikmat yang tadi sempat menurun. Aku menggeliat menikmati semua ini, bahkan aku mendorong dorongkan pinggulku ke depan, rasanya ingin sekali membuat jari jari itu tertelan semuanya dalam liang vaginaku, dan akibatnya aku malah merintih keenakan.

“Eliza… kamu nggak apa apa sayang…?”, tanya Cie Stefanny ragu.

“Ngghh… enak kok Cie…”, aku melenguh dan merintih

“Oh… sayang… kamu sexy sekali…”, Cie Stefanny mendesah pelan.

Sepertinya Cie Stefanny sendiri sedang terbakar oleh gairahnya sendiri. Tanpa menghentikan adukan jari tangannya pada liang vaginaku, Cie Stefanny merayap di atas tubuhku, menindihku dan kemudian mencumbui wajahku. Aku yang semakin tenggelam dalam kenikmatan ini, segera memeluk Cie Stefanny dan kupagut bibir Cie Stefanny sejadi jadinya.

Rintihan kami berdua bersahut sahutan memenuhi kamarku. Ngilu yang kurasakan pada liang vaginaku ini semakin menjadi jadi, dan tubuhku mulai mengejang dan tersentak sentak, mengiringi orgasme yang mulai menderaku.

“Nngghh… Ciee… mmmph…”, aku menjerit keenakan dalam orgasme yang amat nikmat, tapi jeritanku langsung tertahan karena Cie Stefanny langsung memaksaku untuk kembali saling berpagut dengan panas.

Tentu saja aku tak menolak, dan aku mempererat pelukanku pada Cie Stefanny. Dan pinggangku sampai tertekuk ke atas karena adukan jari tangan Cie Stefanny dalam liang vaginaku ini sama sekali tidak mereda, malah semakin menjadi jadi. Kurasakan cairan cintaku membanjir di dalam sana, tubuhku juga basah oleh keringatku. ©kisahbb

AC kamar yang harusnya terasa dingin ini tak mampu membendung rasa panas yang menjalari sekujur tubuhku. Nafasku sudah tinggal satu satu, tapi Cie Stefanny masih saja memagut bibirku dengan ganas, sedangkan adukan jari tangan Cie Stefanny belum menunjukkan tanda tanda akan berhenti. Akibatnya liang vaginaku semakin ngilu, dan orgasmeku sama sekali tidak mereda, malah makin menjadi jadi.

Kedua betisku melejang lejang sampai rasanya kram. Diperlakukan seperti ini, lama kelamaan aku mulai jatuh dalam keadaan setengah sadar, pandanganku mulai kabur, entah karena kehabisan nafas atau kehabisan tenaga, atau mungkin kedua duanya. Pelukanku melemah, kedua tanganku terkulai pasrah di atas ranjang. Aku memejamkan mata, pasrah membiarkan Cie Stefanny berbuat sesuka hatinya terhadap diriku.

Akhirnya Cie Stefanny melepaskan pagutannya pada bibirku, juga menghentikan adukan jari tangannya dalam liang vaginaku. Kepalaku langsung terkulai lemas dengan nafas yang terputus putus. Sesekali tubuhku tersentak, dan sekujur tubuhku gemetar dalam kenikmatan, dan tulang tulangku seperti terlepas dari semua sambungannya. Benar benar lemas sekali, bahkan untuk bergerak pun rasanya aku sudah tak punya tenaga.

“Ngghh…”, aku melenguh lemah ketika Cie Stefanny menarik lepas kedua jari tangannya dari liang vaginaku.

Entah apa lagi yang akan dilakukan Cie Stefanny, aku sudah pasrah. Mataku terpejam erat menikmati sisa sisa orgasmeku yang mulai mereda. Belaian belaian mesra Cie Stefanny benar benar membuatku merasa nyaman, dan aku mulai bisa mengatur nafasku.

“Sayang…”, guman Cie Stefanny dan bibirku dikecupnya dengan mesra.

“Mmm…”, aku merintih perlahan dan balas mengecup bibir Cie Stefanny dengan tak kalah mesranya.

Kedua telapak tanganku digenggam oleh Cie Stefanny, kemudian Cie Stefanny menyusupkan wajahnya di pundak kiriku. Aku senang sekali dan balas menggenggam telapak tangan Cie Stefanny. Beberapa saat lamanya aku pasrah membiarkan tubuhku ditindih Cie Stefanny. Saat tenagaku mulai pulih, aku mekepaskan genggaman tangan kami, kemudian memeluk Cie Stefanny dengan mesra. Rasanya nyaman sekali, dan kami berdua terdiam menikmati semua ini.

-x-

IX. Menikmati Cairan Cinta Cie Stefanny
“Sayang… sekarang pakai baju aja ya… nanti kita masuk angin”, kata Cie Stefanny.

“Nggak boleh…”, aku memandang Cie Stefanny dengan nakal.

“Kamu ini…”, kata Cie Stefanny sambil menggeleng gelengkan kepalanya, lalu melepaskan tindihannya pada tubuhku dan berbaring di sebelahku.

“Malam ini, Cie Cie nggak boleh pakai baju… Eliza juga kok… sekarang kita selimutan aja ya Cie…”, kataku sambil duduk dan mengambil selimutku, yang sebenarnya adalah bed cover, dan kuhamparkan menutupi tubuh kami berdua yang masih telanjang bulat.

“Eliza ingin main main lagi sama Cie Cie …”, kataku dengan manja sambil menyusupkan kepalaku di pundak Cie Stefanny.

“Ya ampun… kamu nggak capek Eliza?”, tanya Cie Stefanny yang memandangku heran.

“Capek sih… enggak kok Cie, Eliza bukan mau ngajak Cie Cie bercinta lagi kok… Eliza cuma ingin…”, aku menggigit bibir sambil tersenyum senyum membayangkan rencanaku.

“Anak nakal… Cie Cie ini mau kamu apain lagi…”, tanya Cie Stefanny yang pura pura merajuk, tapi kemudian tubuhku dipeluknya dengan mesra.

Aku melihat jam, masih jam sembilan malam. Sebentar lagi tenagaku akan cukup untuk kupakai bermain main sebentar dengan Cie Stefanny, habis itu barulah aku akan tidur mengistirahatkan tubuhku, yang sebenarnya sudah amat capek ini. Seharian ini aku sudah berkali kali orgasme, dan itu benar benar menguras tenagaku, juga membuat pinggangku terasa seperti akan patah.

Tapi aku tak mau melewatkan kesempatan untuk bermanja manja dengan Cie Stefanny malam ini. Sambil menunggu, kami berdua saling bercerita pengalaman lucu kami di sekolah. Bukan hal yang penting, tapi pastinya lebih baik daripada kami hanya berdiam diam saja.

Beberapa menit kemudian aku menyibakkan bed cover ini, dan jadinya kami berdua sama sama menggigil kedinginan. ©kisahbb

“Eliza… dingin nih…”, kata Cie Stefanny memelas.

“Iya… sebentar ya Cie…”, aku mencari remote AC dan mematikan AC kamarku.

Kemudian aku mengambil botol yang berisi susu kental manis dari baki yang tadi kubawa masuk ini, tak lupa juga sendok kecilnya. Lalu aku mendekati Cie Stefanny yang masih belum mengerti apa yang akan kulakukan.

“Kok…?”, tanya Cie Stefanny dengan heran.

“Pokoknya Cie Cie berbaring aja ya Cie…”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Duh… kamu… kamu mau apa lagi sayang…”, keluh Cie Stefanny dan menatapku dengan pandangan memelas.

Kubuka botol itu, dan sambil sesekali menatap Cie Stefanny, aku mengambil sesendok kecil susu kental manis. Setelah cukup, aku menuangkan susu itu tepat pada puting payudara kanan milik Cie Stefanny.

“Oooh…”, Cie Stefanny terkejut seperti tak percaya.

“Auww… Eliza…”, Cie Stefanny antara merintih dan tertawa geli ketika aku mencucup putingnya yang berlumuran susu kental manis itu.

“Mmm… enak lho Cie…”, aku menggoda Cie Stefanny dengan tatapan nakal setelah mengulum bersih puting susunya.

“Kamu…”, Cie Stefanny menatapku tanpa daya dengan gemas.

Aku tertawa kecil, lalu kembali menuangkan sesendok susu kental manis pada puting payudara kanan Cie Stefanny. Dan aku segera mencucup puting itu, sementara Cie Stefanny kembali tertawa geli dan tubuhnya menggelinjang. Muka Cie Stefanny sampai memerah, entah karena malu atau terangsang.

Setelah kurasakan tak ada lagi sisa susu yang tersisa pada puting payudara Cie Stefanny, aku beranjak ke belakang, dan kini kedua paha Cie Stefanny kulebarkan hingga vaginanya tersaji di depanku.

“Ooh… Eliza… kamu ini nakal sekali…”, keluh Cie Stefanny memelas ketika aku bersiap siap mengoleskan susu kental manis ini di bibir vaginanya.

Aku hanya meleletkan lidah, lalu bibir vagina Cie Stefanny yang indah ini mulai kubasahi dengan susu kental manis, dan kedua paha Cie Stefanny yang terbuka lebar ini kutahan dengan kedua tanganku. Aku menatap Cie Stefanny dengan senyum menggoda. Cie Stefanny hanya menatapku dengan pandangan memelas dan hanya bisa pasrah dengan kenakalanku.

“Udah… nggak tau… terserah mau kamu apakan Cie Cie ini…”, keluh Cie Stefanny yang sudah menyerah pasrah.

“Angghhk…”, Cie Stefanny melenguh ketika aku dengan tiba tiba mencucup bibir vaginanya.

Semua susu kental yang teroles di bibir vagina Cie Stefanny ini kusedot sampai tandas. Sementara Cie Stefanny hanya bisa merintih dan melenguh, kedua pahanya mengejang hebat, dan kurasakan kedua betis Cie Stefanny juga melejang tak karuan.

Bibir vagina Cie Stefanny sudah kubersihkan dari susu kental manis. Aku melihat Cie Stefanny sekarang ini memejamkan matanya erat erat, nafasnya juga tersengal sengal. Kedua payudaranya berguncang sexy seiring naik turunnya dada Cie Stefanny. Dan selagi guru lesku yang cantik ini tak berdaya, aku mulai mencelupkan jari telunjuk tangan kananku ke dalam liang vagina Cie Stefanny.

“Ngghh…”, lagi lagi Cie Stefanny melenguh.

Kedua tangan Cie Stefanny mencengkram sprei ranjangku ketika aku mulai mengaduk aduk liang vagina Cie Stefanny. Aku bermaksud membuat cairan cinta Cie Stefanny keluar membasahi liang vaginanya, maka aku mempercepat adukan jari tanganku ini. Bahkan selagi Cie Stefanny terus merintih dan mengerang, jari tengah tangan kananku ikut kucelupkan ke dalam liang vagina Cie Stefanny.

“Ngghh… Eliza… ini… kok lagi…”, Cie Stefanny mulai merengek di antara lenguhannya.

“Satu kali aja Cie…”, aku menjawab di antara deru nafasku yang memburu.

“Ngghh… aduuuh…”, Cie Stefanny tak kuat menahan siksaan kenikmatan yang kuberikan padanya, dan ia langsung orgasme dengan hebatnya.

Tubuh Cie Stefanny kembali terlonjak lonjak, dan aku cepat memasukkan sebuah guling di bawah pinggang Cie Stefanny. Kini vagina Cie Stefanny sedikit menghadap ke atas. Aku kembali mengambil botol susu dan sendok kecil itu, lalu kuambil sesendok susu kental dan kutuangkan tepat di bibir vagina Cie Stefanny.

“Oooh…”, Cie Stefanny merintih dan kedua pahanya mengejang sesaat.

Tanpa ampun aku segera mencucup bibir vagina Cie Stefanny yang berlumuran susu kental manis bercampir cairan cintanya ini. Cie Stefanny hanya bisa menggelepar tanpa daya, erangannya makin lemah dan akhirnya guru lesku ini terkulai pasrah dengan tubuhnya yang sesekali tersentak keenakan.

Akhirnya habis juga, cairan cinta Cie Stefanny yang bercampur susu kental manis ini. Aku duduk dan menatap Cie Stefanny sambil tersenyum nakal, sedangkan Cie Stefanny hanya menatapku dengan sayu dan memelas. Tampaknya tenaga Cie Stefanny sudah terkuras habis, dan aku sendiri sebenarnya juga sudah sangat capek.


Setelah mengatur nafas sejenak, kukembalikan botol susu dan sendok ini ke atas baki. Lalu kutuangkan air dingin dari gelas besar ini ke dua gelas bekas kami minum sereal tadi. Dan kubawakan gelas ini ke Cie Stefanny yang masih tergolek lemas di atas ranjangku.

“Cie… minum dulu ya”, aku berkata lembut.

Cie Stefanny perlahan mencoba bangkit dan duduk, lalu memandangku dengan gemas.

“Sudah puas kamu, anak nakal… Cie Cie sampai lemas gini…”, kata Cie Stefanny pura pura kesal.

“Mmm… belum sih Cie… tapi nggak apa apa deh… besok besok masih bisa dilanjutin kok”, kataku sambil meleletkan lidah.

“Dasar… kamu ini benar benar nakal ya Eliza… sampai sampai tadi… masa kamu olesin badan Cie Cie pakai susu kental manis… awas ya, sekarang ini Cie Cie memang capek, tapi besok Senin Cie Cie balas… Dan… kok kamu ini bisa bisanya sampai punya pikiran seperti itu sih?”, tanya Cie Stefanny sambil mengambil gelas minuman untuknya dari tanganku.

“Duh… capeknya…”, Cie Stefanny memandangku seperti minta pertanggung jawaban, membuatku tak bisa menahan geli.

“Iya deh Cie, udah Cie Cie duduk aja, sini Eliza yang bawa”, kataku sambil mengambil kedua gelas itu dari tangan Cie Stefanny.

“Sayang… sekalian tolong ambilkan tissue basah di tasnya Cie Cie ya”, kata Cie Stefanny.

“Iya Cie”, jawabku dan setelah menaruh kedua gelas ini, aku mengambil tas Cie Stefanny yang tergeletak di meja belajarku.

Aku membuka tas itu, mencari cari dan segera menemukan beberapa sachet tissue basah di dalamnya, tapi ketika aku melihat dompet Cie Stefanny, aku jadi penasaran. Apakah Cie Stefanny masih menyimpan foto ko Melvin di dalam dompet itu?

Maka aku mengambil keduanya, dan tentu saja hanya satu sachet tissue basah itu yang kuberikan pada Cie Stefanny.

“Eliza ingin liat SIMnya Cie Cie… boleh yaa”, aku bertanya penuh harap

“Iya boleh kok”, kata Cie Stefanny sambil mulai membuka sachet tissue basah itu.

Aku senyum senyum walaupun hatiku berharap harap cemas. Dan aku lega ketika memang tak ada secuil pun foto ko Melvin dalam dompet Cie Stefanny, itu artinya kokoku benar benar punya harapan. Dan aku pura pura memperhatikan SIM milik Cie Stefanny sebelum akhirnya dompet itu kukembalikan ke dalam tas.

Tapi tepat saat aku akan menutup dompet itu, pandanganku tertuju pada foto yang terpajang di bagian utama dompet itu, tiga orang gadis remaja yang sedang duduk di meja restoran. Entah mengapa aku jadi tertarik untuk terus melihat foto itu, Cie Stefanny dan dua temannya yang cantik.

“Cie… ini Cie Cie kan?”, tanyaku sambil menunjuk salah seorang cewek paling kanan dalam foto itu yang menurutku paling mirip dengan Cie Stefanny.

“Iya, itu waktu Cie Cie baru aja lulus SMA, dan lagi makan makan dengan keluarga”, kata Cie Stefanny sebentar setelah melihat ke foto itu.

“Ih… nggak terlalu beda lho sama Cie Cie sekarang…”, kataku sambil terus memperhatikan foto itu.

“Kalau yang ini?”, tanyaku sambil menunjuk ke cewek yang paling kiri.

“Ya itu Caroline, adik Cie Cie”, jawab Cie Stefanny.

“Oooh… kalau yang di tengah ini siapa Cie?”, tanyaku cepat cepat berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Cie Stefanny tak teringat masalah adiknya itu.

“Yang di tengah ya… itu Katherine, sepupu Cie Cie. Kalau masih hidup, sekarang usianya sudah 24 tahun”, kata Cie Stefanny sambil menerawang.

“Lho… kenapa? Sudah nggak ada Cie?”, tanyaku dengan ragu.

“Iya. Empat tahun lalu, abis ikut acara makan makan untuk merayakan kelulusan SMA Cie Cie, Katherine dan tiga temannya berlibur ke villa di Bogor. Cie Cie masih ingat, temannya itu ada yang bule, dan yang dua lagi Chinese”, Cie Stefanny melanjutkan ceritanya.

“Oh…”, aku mulai merasa kalau tiga temannya Cie Katherine itu juga…

“Mereka sudah akan sampai ke villa ketika mobil mereka ditabrak oleh truk yang sopirnya ugal ugalan, hingga mobil itu terbalik. Semuanya, Katherine dan temannya, meninggal…”, kata Cie Stefanny dengan nada menyesal.

“Ya ampun…”, aku cuma bisa mengguman.

“Tiga teman Cie Katherine itu langsung meninggal karena benturan keras. Katherine yang terjepit mobil yang terbalik itu, menurut beberapa saksi mata sebenarnya masih hidup, tapi akhirnya juga meninggal dengan luka bakar yang sangat parah, karena mobilnya terbakar… Cie Cie waktu itu sampai berkali kali mimpi buruk melihat mayat Katherine di peti, hangus terbakar… “, Cie Stefanny menggigit bibir.

“Cie… udah jangan teruskan…”, kataku ngeri sambil memeluk Cie Stefanny, tak ingin mendengar detail cerita itu.

Lagi lagi masa lalu yang menyedihkan. Aku sedikit merasa bersalah pada Cie Stefanny dan aku menunduk entah harus berkata apa ketika aku melepaskan pelukanku. ©kisahbb

“Sayang, sorry ya Cie Cie tadi terlanjur cerita…”, kata Cie Stefanny.

“Nggak Cie, Eliza yang salah, harusnya Eliza nggak tanya tanya soal foto itu”, aku masih menyesal mengapa aku harus menanyakan foto foto yang ada di dompet Cie Stefanny itu.

“Ya, abisnya sama kamu itu… mana bisa Cie Cie nggak cerita…”, kata Cie Stefanny yang tiba tiba meraih tubuhku dalam pelukannya dan memagut bibirku sejadi jadinya.

“Mmmhh…”, aku agak terkejut walaupun aku langsung pasrah bahkan langsung membalas pagutan Cie Stefanny ini, dan lagi lagi kami berdua berciuman dengan panas sampai sama sama kehabisan nafas.

“Cie…”, aku merintih manja dan menaruh kepalaku di pundak Cie Stefanny, dan aku tersenyum senang ketika kurasakan belaian tangan Cie Stefanny pada rambutku.

“Udah deh… yuk kita tidur… besok kamu ulangan lho sayang…”, bisik Cie Stefanny lagi.

Bibir yang mungil itu kukecup mesra. Weker kusetel jam setengah enam pagi, lalu aku berdiri dan mematikan lampu kamar. Dengan cepat aku menarik Cie Stefanny hingga kami sama sama terbaring di ranjang. Remote AC kupencet supaya AC kamarku kembali menyala, lalu bed cover ini kutarik menutupi kedua tubuh kami yang polos ini. Di dalam selimut, aku memeluk tubuh Cie Stefanny, dan menyusupkan kepalaku ke pundaknya.

Rasanya nyaman sekali, apalagi ketika kurasakan tangan Cie Stefanny melingkar dan memeluk tubuhku.

“Cie… Eliza ngantuk…”, kataku sambil bermanja manja di pelukan Cie Stefanny.

“Cie Cie juga sayang…”, jawab Cie Stefanny sambil membelai rambutku.

Aku memejamkan mata, menikmati pelukan Cie Stefanny yang mulai bercerita kalau tadi siang itu Cie Stefanny sempat disergap Wawan dan Suwito di ranjang ini, lalu dipermainkan mereka sampai lemas.

“Cie Cie tadi sudah hampir diperkosa mereka… untung kamu cepat datang sayang…”, kata Cie Stefanny sambil mencium keningku mesra.

“Eliza sih… nyaris tiap hari diperkosa mereka Cie…”, aku menjawab dengan sangat mengantuk.

“Kamu nggak ngelawan sayang?”, tanya Cie Stefanny.

“Mmm…”, aku hanya menggelengkan kepala.

“Kok nggak?”, Tanya Cie Stefanny mempererat pelukannya padaku.

“Nggak tau Cie, abisnya punya Wawan itu… enak…”, aku menjawab walaupun sudah hampir tertidur.

“Kalau sama mereka Cie Cie nggak tau, takut deh. Tapi kalau sama kamu tadi, mm… kalau saja tadi itu ada yang merekam waktu Cie Cie bercinta…”, kata kata Cie Stefanny sudah tak bisa kudengar lagi karena aku sudah tertidur pulas, dalam pelukan Cie Stefanny.


Nafasku masih tersengal sengal ketika tinggal aku sendiri yang masih berada di kamar ganti. Bagaimana tidak capek, tenaga masih belum benar benar pulih akibat perkosaan demi perkosaan yang kualami kemarin, ditambah semalaman aku bermesraan dengan Cie Stefanny, tadi aku dan semua teman teman harus berlari keliling lapangan berkali kali karena guru olahraga kami marah dan memberi kami hukuman.

Teringat tentang Cie Stefanny, aku jadi senyum senyum sendiri, dan setelah selesai berganti pakaian, aku keluar dari kamar ganti ini. Aula tempat kami berolahraga ini sudah kosong sama sekali, dan aku melangkah menuju pintu aula ini.

Tapi sesaat kemudian aku berhenti melangkah, dan aku tertegun melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pintu aula. Itu kan… Andi?

Jantungku berdegup kencang, ketika aku melihat Andi melangkah mendekatiku. Oh, apa yang akan dia lakukan di sini? Benarkah ini Andi yang sampai mencariku ke sini? Aku diam mematung, dan menundukkan kepala tak tahu harus berbuat apa, di antara rasa tegang dan senang, tapi juga bercampur malu.

“Hai, Eliza”, Andi menyapaku.

“H… Hai juga Andi…”, aku membalas sapaan Andi.

“Aku tadi diberitahu Jenny, kamu masih di sini”, kata Andi.

“Kamu… cari aku?”, aku bertanya dengan hati yang berbunga bunga.

“Iya”, kata Andi sambil memegang kedua lenganku, membuatku terkejut sekali.

Jantungku terus berdebar dengan hati yang berharap harap cemas. Apa yang ingin Andi katakan padaku di saat hanya ada kami berdua dalam aula ini? Apakah seperti biasanya, Andi hanya ingin meminjam buku catatan pelajaranku? Atau Andi akan menyatakan cintanya padaku? Atau apakah ada yang lain?

Dan selagi aku masih bertanya tanya dalam hati, tiba tiba Andi mendorongku masuk kembali ke kamar ganti, dan setelah kami sama sama berada di dalam, pintu kamar ganti ini dikuncinya dengan cepat.

“Andi?”, tanyaku tak percaya.

“Eliza… sudah lama aku menginginkan kamu”, kata Andi dengan suara berat dan ia memandangku dengan penuh gairah, tapi anehnya aku merasakan pandangan itu juga sedikit merendahkan diriku.

Berikutnya ia sudah menubrukku, memeluk tubuhku dan menciumi wajahku. Aku meronta dengan perasaan kecewa. Ternyata Andi tidak berbeda dengan mereka, mereka yang cuma menginginkan tubuhku saja. Aku mulai menangis, rasanya sudah tak ada lagi harga diri yang tersisa dariku. Apakah aku memang dilahirkan hanya untuk memuaskan nafsu para lelaki bejat?

“Eliza… kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaanku padamu?”, ejek Andi.

Aku membuang muka. Tiba tiba saja aku merasa muak dan marah, dan aku kembali meronta dan berusaha mendorong Andi yang masih mendekap tubuhku. Tapi tenaga Andi terlalu kuat bagiku, dan tak ada perlawanan yang berarti dariku ketika Andi melucuti baju seragam sekolahku, lagipula tiba tiba saja aku jadi takut kalau kalau Andi mendadak jadi kalap dan merobek bajuku ini.

“Ya Tuhan… kulitmu putih sekali Eliza… sudah lama aku ingin melihat tubuhmu, cantik”, kata Andi yang kini matanya seperti melotot hendak keluar memandangi payudaraku yang masih terlindung bra ini.

“Andi… kamu gila… kenapa kamu jadi seperti ini…”, aku kembali mencoba meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Andi yang sudah seperti kerasukan setan ini.

“Kenapa Eliza… kamu nggak mau bersenang senang denganku? Tapi kamu cuma mau bersenang senang dengan tukang tambal? Dengan tukang becak?”, kata kata Andi ini membuatku merasa seperti disambar petir.

“Nggak usah pucat begitu, Eliza. Aku tahu semuanya, kamu ini sebenarnya cewek bispak. Sudah banyak laki laki di sekolah ini yang mencicipi tubuhmu, termasuk kemarin Dedi dan Pandu. Waktu istirahat pertama tadi, mereka tadi sudah cerita ke semua orang yang ada di warung depan sekolah, tentang servis oralmu yang luar biasa, juga memekmu yang masih seret walaupun sudah nggak perawan lagi”, kata Andi dengan senyuman yang penuh ejekan.

“Ohh…”, aku mengeluh lemas, air mataku mengalir membasahi kedua pipiku dan aku sudah sama sekali tak berniat untuk meronta ataupun berteriak.

“Jadi, sekarang aku ingin coba servismu, perek… sebelum aku nggak kebagian”, kata Andi sambil melorotkan celananya.

Hatiku benar benar hancur mendengar perkataan Andi, dan rasa ngeri menyelimuti hatiku. Apa itu berarti satu sekolah ini sudah tahu kalau aku ini sudah bukan perawan lagi?

Entah apa yang harus kulakukan, dan entah apa yang terjadi kalau berita ini sampai ke telinga papa dan mamaku. Kini aku hanya menangis pasrah ketika Andi menaikkan ujung bawah rok seragam sekolahku ini sampai ke pinggangku.

Celana dalamku dengan cepat ditarik lepas ke bawah oleh Andi, dan tanpa melepaskan sepatuku, Andi menaikkan kedua kakiku ke pundaknya, lalu mulai mengarahkan penisnya untuk membelah liang vaginaku.

“Aduh… sakit Ndi…”, aku mengeluh ketika Andi menjejalkan penisnya begitu saja ke dalam liang vaginaku tanpa perasaan.

“Augh… benar benar sempit… persis seperti kata Dedi dan Pandu…”, Andi meracau tak karuan sambil mulai memompa liang vaginaku.

Aku menggeliat kesakitan, liang vaginaku pedih sekali, rasanya seperti diterjang besi panas. Penis Andi ternyata cukup besar, dan cukup untuk menyakiti liang vaginaku karena belum ada cairan pelumas sama sekali di dalam sana.

“Ndi… sakit…”, aku kembali memohon dengan memelas.

“Sudah diam perek, nanti juga enak”, Andi membentakku.

Kata kata yang baru saja keluar dari mulut Andi itu sangat melukai perasaanku. Dan setelah berkata begitu, Andi langsung meremasi kedua payudaraku dengan kasar, sampai bra yang kukenakan ini tertarik ke atas dan memperlihatkan puting payudaraku. Sementara itu sodokan penisnya Andi semakin menyiksaku. Entah sebesar apa penisnya Andi ini, tapi sekarang ini liang vaginaku rasanya seperti dirobek robek, dan rintihan kesakitan dariku sama sekali tak diperdulikan oleh Andi.

Hatiku benar benar sakit. Laki laki yang selama ini kuidam idamkan dalam hati, ternyata bejat tak bermoral, juga tega memperlakukan diriku dengan kejam seperti ini. Sakit di hatiku akibat penghinaan dan pelecehan yang dilakukan Andi jauh lebih besar dari rasa sakit yang mendera liang vaginaku sekarang ini. Kini aku hanya memejamkan mata sambil menangis sedih, menanti selesainya pemerkosaan terhadap diriku.

“Mmph…”, sayup sayup aku mendengar rintihan wanita.

Aku sangat mengenal suara rintihan itu. Itu adalah suara rintihan Cie Stefanny!

Tentu saja hal ini membuatku bertanya tanya karena tadi itu hanya tinggal aku sendiri yang berada di dalam ruang ganti ini, dan kini seharusnya hanya aku dan Andi yang berada di dalam sini. Dan lagi bagaimana Cie Stefanny bisa berada di sekolahku? Aku membuka mata, tapi sinar lampu yang amat terang memaksaku kembali memejamkan mata dan membuka mataku dengan perlahan. Selagi aku masih berusaha beradaptasi dengan sinar lampu ini, Andi menghentikan genjotannya pada liang vaginaku.


“Non, kok menangis?”, aku merasa terkejut, yang barusan bertanya ini jelas bukan suara Andi.

Apakah benar benar ada orang lain di ruangan ini? Aku segera membuka mataku kembali, dan yang pertama kulihat adalah langit langit… kamarku sendiri!?

Aku mengarahkan pandanganku ke depan, ternyata Suwito yang berada di depanku, dekat sekali, dengan kedua betisku yang tertumpang di pundaknya. Lalu di mana Andi? Kulihat jam digital di meja belajarku, ternyata sekarang ini hari Jumat jam 12:15… pagi!? Harusnya begitu, karena kalau ini siang dan masih jam segitu, aku pasti belum pulang dari sekolah.

Tapi tetap saja aku ragu. Siapa tahu aku pulang lebih awal? Dan semua tadi itu adalah nyata?

Walaupun mataku memang basah oleh air mata, sesaat kemudian aku mulai berharap tadi itu semuanya hanyalah mimpi.

“Suwito… ini masih pagi kan?”, aku bertanya penuh harap.

“Masih tengah malam non”, jawab Suwito, yang terlihat heran dengan pertanyaanku.

Tapi jawaban Suwito yang belum jelas ini membuatku kembali kuatir. Aku sendiri merenung sejenak, mencoba memahami keadaanku. Tubuhku yang telanjang bulat tanpa sehelai kainpun yang melekat, terduduk di kursi meja belajarku. Suwito sendiri seperti duduk di depanku, membuatku cukup tertarik untuk memperhatikan bagaimana ia melakukannya.

Ternyata ia memang sedang duduk di atas kursi satunya dari meja belajarku, yang ditaruhnya berhadapan dengan kursi yang kududuki ini. Dengan penisnya yang menancap dalam liang vaginaku tentunya, yang kini denyutan denyutan penis itu sedikit banyak membuatku jadi terangsang juga.

“Cie Stefanny…”, aku langsung teringat, dengan jantung berdegup kencang, berharap Cie Stefanny masih ada di sini, karena itu adalah hal yang paling bisa meyakinkanku kalau semua kejadian bersama Andi yang tadi itu hanyalah mimpi buruk.

“Guru lesnya non? Tuh, Wawan yang dapat bagian”, jawab Suwito sambil cengengesan.

Aku segera menoleh ke sana kemari tanpa memperdulikan tawa Suwito yang kurang ajar ini, dan aku segera menemukan Cie Stefanny, sedang tergolek di ranjangku, dengan kedua tangannya yang terentang pasrah terikat pada kedua ujung ranjangku. Tubuhnya telanjang bulat sama sepertiku, dan kulitnya yang putih mulus itu jadi terlihat begitu putihnya dengan adanya tubuh Wawan yang kini sedang menindih dan mencumbui guru lesku ini.

Sesekali aku melihat Cie Stefanny meronta, tapi dengan kedua tangannya yang terentang dan terikat erat pada sudut sudut ranjangku, tak banyak yang bisa dilakukan oleh Cie Stefanny selain sesekali mengejang menerima rangsangan demi rangsangan yang diberikan oleh Wawan.

“Mmphh…”, kembali kudengar Cie Stefanny merintih.

Melihat Cie Stefanny masih di sini, aku sudah yakin kalau semua kekejaman Andi tadi itu hanyalah mimpi buruk. Oh Tuhan, entah bagaimana nasibku kalau mimpi tadi itu adalah kenyataan, dan kini aku menangis sejadi jadinya meluapkan kelegaanku.

“Non… maaf membuat non marah”, kata Suwito dengan panik sambil menjauhkan dirinya dariku hingga penisnya terlepas dari jepitan liang vaginaku.

Ingin sekali aku menahan Suwito, aku tak ingin penis itu terlepas meninggalkan liang vaginaku. Tapi sekarang ini aku memikirkan Cie Stefanny, maka aku harus menahan gairahku sendiri dan memastikan Cie Stefanny baik baik saja.

Aku melihat Wawan sudah berhenti bergerak dan memandangku dengan tegang, kelihatannya ia juga kuatir melihatku menangis. Tepat ketika aku mulai memikirkan bagaimana mereka berdua ini bisa masuk ke kamarku, karena aku sangat yakin tadi aku sudah mengunci pintu kamarku, tiba tiba sesosok tubuh muncul dari jendela kamarku, dan setelah bunyi klik yang menandakan tertutupnya jendelaku, sosok itu mendorong dan menerobos gorden di kamarku yang menutup kaca jendela itu.

Ternyata sosok itu adalah pak Arifin!

Aku menyesali kebodohanku yang tadi tidak memeriksa kunci jendela kamarku. Aku memang hampir tak pernah membuka jendela kamarku hingga sama sekali tak terlintas di pikiranku untuk memeriksanya, dan selain itu jendela kamarku memang biasanya selalu terkunci. Siapa yang akan menyangka hal seperti ini akan terjadi? ©kisahbb

“Wah bener Wan, cantik sekali, nggak kalah sama non Eliza”, seru pak Arifin mengagumi kecantikan Cie Stefanny.

Dan aku makin kesal karena pak Arifin yang baru datang itu tanpa sungkan langsung naik ke ranjangku lalu ikut mengeroyok Cie Stefanny yang terus merintih tertahan. Tapi kemudian ia segera berhenti karena ditahan oleh Wawan.

“Kalian semua sudah gila ya?”, aku mendesis ngeri di sela isak tangisku.

Tak pernah aku berpikir mereka bertiga akan senekat ini, memasuki kamarku di tengah malam lewat jendela untuk memperkosaku, apalagi kini ada Cie Stefanny yang harus ikut menemaniku jadi bulan bulanan para pembantu dan sopir keluargaku ini.

Aku berdiri dan berjalan mendekati Cie Stefanny. Kulihat mulut Cie Stefanny disumpal dengan segumpal kain, yang ketika kutarik ternyata adalah celana dalamku. Benar benar kurang ajar mereka ini, aku merasa sangat marah melihat hal ini.

“Aahh…”, keluh Cie Stefanny ketika mulutnya terlepas dari sumpalan ini.

Aku cepat melepaskan semua ikatan pada kedua pergelangan tangan Cie Stefanny yang ternyata juga sedang menangis.

“Sorry Cie…”, aku tak tahu harus berkata apa selain mencoba menenangkan Cie Stefanny dengan memeluknya.

“Nggak sayang… Cie Cie nggak apa apa”, Cie Stefanny memelukku, dan tanpa kuduga sama sekali bibirku langsung dipagut Cie Stefanny dengan penuh gairah.

“Mmhhh…”, aku merintih mesra dan membalas pagutan Cie Stefanny dengan penuh gairah.

Aku membayangkan, tiga orang lelaki di kamarku ini pasti terbengong bengong melihat dua bidadari di depan mereka ini saling berpagut mesra seperti ini. ©kisahbb

Diam diam aku tertawa geli dalam hati, dan aku malah sengaja memamerkan kemesraanku dengan Cie Stefanny, walaupun aku sadar hal ini berarti kami berdua secara tidak langsung memberikan lampu hijau pada pak Arifin, Wawan dan Suwito untuk menikmati tubuh kami sepuas puasnya.

Cukup lama aku dan Cie Stefanny berciuman dan bercumbu dengan mesra, ketika kurasakan dua tangan yang menyusup dari belakang tubuhku, mencari dan menggerayangi kedua payudaraku. Hal ini membuat gairahku yang sudah terbakar karena saling berpagut dengan Cie Stefanny ini makin menjadi jadi.

“Non Eliza… bikin takut saja pakai nangis segala”, kata Wawan gemas dan meremas kedua payudaraku dengan keras.

“Mmh… aah…”, aku merintih dan menggeliat kesakitan hingga pagutanku pada bibir Cie Stefanny terlepas.

“Eliza…”, Cie Stefanny merengek dan menatapku memelas ketika pak Arifin memeluknya dari belakang dan meremasi kedua payudaranya.

“Udah non, sama saya saja”, kata pak Arifin sambil meremasi kedua payudara Cie Stefanny yang hanya bisa merintih rintih.

Berikutnya, Cie Stefanny hanya pasrah ketika wajahnya dicumbui pak Arifin. Adegan sensual di depanku ini benar benar membuatku terbakar birahi, apalagi payudaraku sendiri terus diremasi oleh Wawan. Dan tiba tiba aku melihat Suwito yang kini sudah ada di samping kananku, dan memandangku dengan gemas, membuat jantungku berdegup kencang.

“Su… Suwito… mau apa kamu mmpph…”, kata kataku terputus ketika Suwito memagut bibirku dengan ganas.

Seperti biasa, Wawan dan Suwito dengan mudah membuatku tenggelam dalam lautan birahi. Aku hanya bisa menggeliat pasrah dalam pelukan mereka berdua, menikmati pagutan gemas Suwito pada bibirku, juga semua cumbuan dan rangsangan oleh Wawan yang memeluk tubuhku dari belakang.

Sesekali kudengar rintihan pasrah dari Cie Stefanny yang digumuli oleh pak Arifin, sementara dengusan nafas pak Arifin yang sudah begitu bernafsu terdengar dengan jelas. Aku makin terangsang membayangkan Cie Stefanny diperkosa oleh sopirku yang keranjingan ini.

“Ngghh…”, aku melenguh pelan ketika Suwito yang baru saja melepaskan pagutannya pada bibirku, kini sudah kembali memaksa memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku.

Entah apa yang membuatku berpikir seperti ini, tapi tiba tiba saja aku ingin Cie Stefanny menikmati keperkasaan Wawan yang penisnya amat keras dan selama ini memang Wawan yang paling mampu berlama lama mempermainkan liang vaginaku. Bukan hanya itu, kini aku bahkan ingin melihat Cie Stefanny dipuaskan oleh mereka bertiga sekaligus, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka lakukan bertiga ini padaku.

“Cie…”, aku memanggil Cie Stefanny di antara deru nafasku.

“Iyah… sayaang…”, Cie Stefanny menjawab di sela rintihannya.

“Cie Cie… mau nggak… kalau sama Wawan… ngghh…”, aku kembali melenguh ketika Suwito menusukkan penisnya begitu dalam pada liang vaginaku.

“Mmpph…”, Cie Stefanny hanya merintih tertahan, mungkin karena bibirnya sudah dipagut lagi oleh pak Arifin, aku tak bisa melihat karena aku sendiri sedang digumuli oleh Wawan dan Suwito.

“Wan… kamu sama Cie Cie aja…”, aku berkata sambil memejamkan mata menikmati genjotan Suwito.

Tanpa menjawab, Wawan melepaskan pelukannya pada tubuhku hingga kini aku terbaring di ranjang. Dan Suwito tampaknya mengerti keinginanku, ia menggeser posisi persetubuhan kami hingga aku bisa melihat ke arah Cie Stefanny yang sedang pasrah dipagut oleh pak Arifin. Kedua tangannya lunglai tanpa daya, benar benar sebuah pemandangan yang amat erotis.

Kini Wawan sudah berada di depan selangkangan Cie Stefanny. Wawan segera melebarkan kedua paha Cie Stefanny, dan bersiap untuk menusukkan senjatanya yang perkasa itu. Aku terus berusaha melihat ke arah mereka bertiga. Tapi Cie Stefanny yang sadar dengan keberadaan Wawan mencoba merapatkan kedua pahanya, tampaknya ia masih ragu untuk menerima hunjaman penis lelaki pada liang vaginanya.

Tiba tiba aku terkejut ketika memikirkan satu hal.

“Suwito… berhenti…”, aku beranjak duduk dan mendorong tubuh Suwito hingga penisnya terlepas dari jepitan liang vaginaku.

“Lho… kenapa lagi non…”, Suwito penasaran dan mencoba memeluk tubuhku, tapi aku menahannya.

“Sebentar Suwitoo… nggak sabaran amat sih…”, aku mengomel dan menjauhkan diri dari Suwito yang masih menatapku dengan penuh nafsu.

Aku tak perduli dan segera merangkak mendekati Cie Stefanny, memaksa pak Arifin menghentikan pagutannya pada Cie Stefanny yang sudah hampir kehabisan nafas itu. Lalu aku memeluk Cie Stefanny dan menyusupkan kepalaku ke pundak kirinya.

“Cie… lagi subur nggak…”, aku berbisik di telinga Cie Stefanny yang terlihat sekali kalau sedang terangsang hebat ini.

Cie Stefanny menatapku dengan pandangan memelas dan ia menggeleng tanpa menjawab.

“Cie Cie mau nggak diperkosa mereka?”, tanyaku lagi dengan masih berbisik, sekali ini sambil menatap mata Cie Stefanny dengan nakal.

“Nggak mau…”, rintih Cie Stefanny dengan memelas.

“Mmm… ya udah, Cie Cie lihat Eliza aja ya…”, kataku sambil menjauh dari Cie Stefanny.

Aku tahu Cie Stefanny hanya belum biasa, dan kalau aku bisa membangkitkan gairahnya, bukan tidak mungkin kalau akhirnya malah Cie Stefanny yang menginginkannya. Maka kini aku akan mencoba menggoda iman Cie Stefanny, dengan melakukan live show di depan Cie Stefanny.

“Kalian bisa ngeseks denganku, tapi jangan sentuh Cie Stefanny. Mengerti?”, aku berkata serius pada pak Arifin, Wawan dan Suwito.

“Siap bos”, jawab mereka serempak.

Sebenarnya aku ingin bercinta dengan Wawan, tapi tadi yang terakhir mendapatkan jatah liang vaginaku adalah Suwito dan ia belum tuntas menikmati tubuhku. Aku tak ingin mengecewakan Suwito, maka Suwito kusuruh tiduran di atas ranjangku, lalu aku menaiki tubuhnya untuk menunggangi penisnya yang sudah ereksi dan amat tegang itu. ©kisahbb

Selain itu kalau aku harus memberikan liang vaginaku pada Wawan, aku takut kalau aku harus orgasme berkali kali, sedangkan tubuhku sebenarnya baru mendapatkan sedikit istirahat, yang pasti belum cukup kalau aku harus ngeseks sepuas puasnya dengan Wawan.

Dan aku memang hanya ingin memberikan servis oral saja kepada Wawan, hingga nanti Wawan akan membantai Cie Stefanny dengan ganas karena nafsunya yang memuncak akibat spermanya yang harusnya tak mungkin keluar hanya karena kuoral saja.

Aku menunduk dan memegang penis Suwito, lalu aku memasangkan bibir vaginaku ke kepala penis Suwito. Tubuhku kuturunkan ke bawah hingga liang vaginaku menelan penis Suwito yang langsung saja merem melek keenakan. Aku terus menekan pinggulku ke bawah sambil memandang sayu ke arah Cie Stefanny.

Cie Stefanny menggigit bibirnya dan menatapku antara malu dan bergairah, lalu ia kembali melihat ke arah selangkanganku. Aku menahan gerakan pinggulku, dan malah menarik sedikit ke atas, lalu kuturunkan lagi perlahan hingga penis Suwito akhirnya amblas sepenuhnya tertelan liang vaginaku.

“Aakkh… enaknya noon…”, Suwito meracau tak karuan

Suwito sudah tak tahan lagi untuk memulai menikmati tubuhku. Dengan sekali sentakan oleh Suwito, aku langsung memejamkan mata sambil menggigit bibir menahan nikmat. Liang vaginaku mulai dipompa dengan kencang oleh Suwito, membuatku mulai lemas diamuk gairah. Namun aku masih harus melanjutkan rencanaku, dan aku menatap ke arah pak Arifin.

“Pak, sini… ke depan Eliza…”, kataku pelan.

Liang vaginaku yang dipompa Suwito sudah mulai terasa ngilu ngilu enak. Aku merintih pelan dan sedikit menggeliat, lalu dengan gerakan yang sengaja kubuat erotis, aku melucuti sabuk yang dikenakan pak Arifin, yang sudah berdiri di depanku. Sesekali aku melirik ke arah Cie Stefanny yang sepertinya makin gugup melihatku bertingkah seperti pelacur saja.

Dalam keadaan terangsang karena liang vaginaku terus dipompa dari bawah oleh Suwito, aku melepaskan kancing celana panjang pak Arifin dan menurunkan resletingnya. Aku melorotkan celana panjang itu ke bawah sambil menatap pak Arifin dengan nakal.

“Ngghh…”, aku melenguh pelan menikmati sodokan penis Suwito yang makin gencar.

Tubuhku bergetar menahan nikmat, dan aku mati matian berusaha menguasai diri. Lalu aku membelai senjata pak Arifin yang masih terbungkus celana dalamnya hingga pemiliknya mengerang menikmati kenakalanku. Masih dengan perlahan dan dengan gerakan erotis yang pasti sangat menggoda iman sopir keluargaku ini, aku melorotkan celana dalam itu hingga penis yang panjang dan besar itu langsung mengacung ke arahku.

“Pak, tadi katanya… kangen sama Eliza… Sekarang kok diam aja…”, desahku pelan sambil terus menggoda penis pak Arifin.

Aku jadi ingin tertawa geli melihat pak Arifin yang menatapku sambil melongo. Aku mengulum penis pak Arifin sambil menatap Cie Stefanny yang langsung menunduk malu, tapi sesekali Cie Stefanny menatapku sekilas.

Kira kira semenit aku mengoral penis pak Arifin bahkan beberapa kali kupaksa masuk ke dalam liang tenggorokanku, sampai aku menganggap penis itu cukup basah oleh air ludahku. Aku melepaskan penis itu dari mulutku, lalu aku menatap Suwito yang sama sekali tak menurunkan tempo genjotannya pada liang vaginaku. Sambil sedikit membungkuk aku menahan tubuhku dengan kedua tanganku yang kutekankan di ranjang.

“Pak… Arifin… ngghh… masukin… punya pak Arifin… juga… di belakang…”, kataku di antara lenguhanku ketika aku sudah tak mampu lagi menahan nikmat yang diberikan Suwito pada liang vaginaku ini.

“Beneran nih non? Sudah lama bapak ingin menikmati lubang non yang belakang ini”, kata pak Arifin antusias.

“Eliza… kamu…”, desis Cie Stefanny yang kembali menggigit bibirnya.

Kini tubuhku sudah kurebahkan hingga dadaku menempel pada dada Suwito, sambil terus menatap Cie Stefanny dengan sayu, menunggu datangnya siksaan dari penis pak Arifin pada liang anusku. Sebenarnya aku tak suka jika anusku dibobol, tapi demi membangkitkan gairah Cie Stefanny, aku merelakan kedua liang di selangkanganku ini dihajar ramai ramai oleh pak Arifin dan Suwito.

“Angghhk…”, aku melenguh kesakitan ketika penis pak Arifin mulai membobol liang anusku.

“Elizaa… kamu nggak apa apa sayang?”, tanya Cie Stefanny.

“Nggak… apa apa… Ciee… ngghh…”, jawabanku terputus ketika aku harus melenguh dan hampir mengejan karena penis pak Arifin yang panjang dan cukup keras itu terus melesak masuk memenuhi liang anusku.

Kini dua penis sudah menancap erat di dalam kedua liang di selangkanganku yang terasa penuh. Aku menguatkan diri dan dengan kedua tanganku yang kutekankan di ranjang, bagian depan tubuhku kuangkat sedikit. Dan aku menatap Wawan sambil menggigit bibir.

“Wan… ayo aku emut… punya kamu…”, aku bahkan hampir tak bisa mempercayai kata kataku yang mungkin tak beda dengan rayuan pelacur rendahan, entahlah mungkin karena aku sudah diamuk gairah membayangkan aku akan dikeroyok habis habisan oleh mereka bertiga di depan Cie Stefanny.

“Weleh weleh, tumben tumbennya non yang minta satu lawan tiga. Ya sudah, emut non”, kata Wawan yang langsung berlutut menyodorkan penisnya ke hadapan mulutku.

Aku menatap Cie Stefanny sejenak, lalu aku segera menghisap penis Wawan. Dan mereka bertiga mulai menggerak gerakkan tubuh mereka, menyiksa dan menggelamkanku dalam kenikmatan yang luar biasa.

Setiap Suwito menekankan penisnya ke dalam liang vaginaku, penis pak Arifin sedikit tertarik keluar dari liang anusku. Bersamaan dengan itu Wawan dengan kejam menjejalkan penisnya hingga terus melesak masuk ke dalam kerongkonganku.

Dan berikutnya ketika Suwito sedikit menarik keluar penisnya dari liang vaginaku, ganti penis pak Arifin yang melesak masuk ke dalam liang anusku, membuat perutku terasa mulas dan aku harus menahan diriku supaya tidak mengejan. Wawan sendiri juga menarik penisnya sampai keluar seluruhnya dari tenggorokanku, tapi kepala penis hingga setengah batang penis Wawan masih ada di dalam jepitan mulutku yang mungil ini.

“Mmpph…”, aku merintih antara kesakitan dan keenakan.

“Oooghh… punya non ini seretnya minta ampun…”, racau pak Arifin sambil meremasi kedua pantatku.

“Enak noon…”, erang Suwito yang kini menambah siksaan kenikmatan pada tubuhku dengan mulai meremasi kedua payudaraku yang tergantung di depan wajahnya.

Aku sendiri tak bisa menjawab apapun karena mulutku tersumpal penis Wawan yang tak berkata apa apa dan terus menikmati servis deep throat dariku.

Mereka bertiga terus mengaduk aduk ketiga liang kenikmatanku, dan aku sendiri berusaha untuk menikmati semua rangsangan yang kuterima, terutama untuk melenyapkan rasa sakit yang mendera liang anusku. Kenikmatan sekaligus rasa sakit yang mendera tubuhku membuat rintihanku mulai berubah menjadi erangan tertahan, tubuhku mulai gemetar dan pandangan matakuku cepat sekali sudah kabur dan berkunang kunang.

Aku sempat berpikir, keadanku yang lebih lemah dari biasanya ini mungkin karena staminaku yang sudah habis. Aku masih ingat bagaimana kemarin seharian aku harus ngeseks berkali kali mulai dari berlesbian ria di toilet sekolah dengan Jenny, lalu digangbang di ruang guru oleh pak Edy, Pandu dan Dedi, lalu dibantai lagi oleh Dedi, tukang tambal ban dan 5 tukang becak siang kemarin. Dan sorenya aku masih sempat sempatnya berlesbian ria dengan Cie Stefanny, bahkan keterusan sampai malam.

Semua itu diperparah dengan tidurku yang hanya dua jam dan sekarang aku harus ngeseks lagi dengan ketiga lelaki yang sekarang ini menikmati tubuhku. Memikirkan semua itu malah membuatku makin bergairah, dan di tengah jepitan tubuh ketiga orang lelaki ini aku orgasme tanpa bisa kutahan lagi.

“Mmpphh… mmmmhhh…”, aku merintih panjang tanpa daya menikmati orgasmeku.

“Ohh… kalian jangan siksa Eliza seperti ini…”, keluh Cie Stefanny yang memandangku dengan iba.

“Mpphh… mmhhh… enggak apa apa… enak kok Ciee… ngghhh”, aku sempat melepaskan mulutku dari jejalan penis Wawan, tapi kata kataku kembali terputus karena aku harus melenguh keenakan, dan sesaat kemudian aku kembali harus mengulum dan menelan penis Wawan di dalam tenggorokanku.

“Sayang…”, desah Cie Stefanny.

Cie Stefanny kini mendekatiku dan berlutut di sebelah kiriku. Ia menyibakkan dan membelai rambutku yang terjuntai ke bawah dan sedikit menutupi wajahku. Aku menatap senang ke arah Cie Stefanny. Aku memang suka kalau rambutku dibelai, apalagi yang membelai ini Cie Stefanny. Kutekankan tangan kananku kuat kuat ke ranjang, dan tangan kiriku kuangkat untuk kutempelkan di payudara Cie Stefanny yang hanya menatapku sambil tersenyum malu.

“Mmmhh…”, Cie Stefanny merintih ketika aku meremasi kedua payudaranya bergantian dengan tangan kiriku.

“Yah… enaaak noooon…”, kudengar pak Arifin melolong dan penisnya yang sejak tadi menghajar liang anusku berkedut kedut.

Siraman cairan sperma yang hangat dari penis pak Arifin seperti meredakan rasa nyeri dan sakit pada liang anusku. Dan setelah penis itu tertarik lepas, aku sedikit merasa lega. Paling tidak aku tak lagi harus menahan keinginanku untuk mengejan, rasa mulas pada perutku juga mereda. Kini aku tinggal menunggu Suwito berejakulasi, yang kalau kulihat dari wajahnya yang mengernyit keenakan tampaknya sebentar lagi ia juga sudah akan mencapai puncaknya.

“Non Elizaa…”, erang Suwito panjang ketika tubuhnya yang ada di bawahku ini berkelojotan dan bergetar hebat.

Kurasakan semprotan sperma yang kencang dari penis Suwito yang masih bersemayam di dalam liang vaginaku. Rasanya hangat dan aku gemetar menahan nikmat, hampir saja aku dibuat orgasme lagi oleh Suwito.

Dan karena mulai kehabisan nafas, aku mendorong tubuh Wawan hingga penis Wawan yang masih mengaduk liang tenggorokanku ini terlepas dari mulutku.

“Akh…”, aku memejamkan mata dan menarik nafas panjang sepuas puasnya hingga dadaku terasa lega.

Belum lagi aku membuka mata, tiba tiba kurasakan bibirku sudah terpagut, dan tanpa membuka mata aku sudah tahu bibir mungil yang memagut bibirku ini adalah milik Cie Stefanny. Aku memeluk Cie Stefanny dan balas memagutnya, dan kami sampai bergulingan di atas ranjang hingga penis Suwito juga terlepas dari liang vaginaku. Kini Cie Stefanny yang menindihku, dan aku sampai menelan semua air ludah yang keluar dari mulut Cie Stefanny, dan aku benar benar menyukai rasa air ludah Cie Stefanny.

“Wooo…”, sorakan sopir dan kedua pembantuku mengiringi pergumulanku dengan Cie Stefanny.

Setelah puas saling berpagutan, kami berdua saling pandang dengan mesra. Cie Stefanny kembali menyibakkan rambutku yang kusut dan sedikit basah oleh keringatku, lalu ia mengecup kedua mataku dengan lembut. Aku memejamkan mata menikmati cumbuan mesra Cie Stefanny.


“Cie, Eliza ke kamar mandi dulu ya, mau bersihin ini”, kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah selangkanganku.

Cie Stefanny mengangkat badannya yang menindih tubuhku sambil melihat arah tanganku. Lalu kami berdua sama sama berdiri. Sopir dan kedua pembantuku masih duduk di lantai kamarku, asyik memandangi kami berdua.

Tapi di luar dugaanku, tiba tiba Cie Stefanny berlutut dan melebarkan kedua pahaku, lalu liang vaginaku yang masih belepotan sperma Suwito itu dicucupnya kuat kuat.

“Ngggh… Cieee…”, aku merintih keenakan.

“Woooww… isep… isep…”, kembali sopir dan kedua pembantuku bersorak menikmati tontonan adegan lesbian dari dua bidadari di hadapan mereka.

Cie Stefanny terus menghisap campuran sperma Suwito dan cairan cintaku dari liang vaginaku. Aku mulai menggeliat dan berkelojotan menahan nikmat. Setelah semuanya habis, Cie Stefanny malah memasukkan satu jari tangannya ke dalam liang vaginaku, diikuti satu jarinya yang lain lagi.

“Ngghh… ampun Cieee…”, aku mengerang.

Tapi Cie Stefanny sudah terbakar nafsunya, ia mengaduk aduk liang vaginaku dengan kedua jarinya hingga aku hanya bisa meracau keenakan. Gairahku yang belum turun sepenuhnya ini kembali meninggi dengan cepat, dan liang vaginaku rasanya seperti akan meledak saja.

“Cieee… ooohhh… ngghhh…”, aku melenguh panjang mengiringi orgasme yang melandaku.

Cairan cintaku rasanya membanjir deras, dan gilanya Cie Stefanny lagi lagi mencucup liang vaginaku. Aku sudah dalam keadaan setengah sadar, tubuhku gemetar dan mengejang hebat. Seandainya sekarang ini aku terbaring di ranjang, kedua kakiku pasti melejang tak karuan. Tapi aku tak bisa melakukannya karena kedua kakiku masih harus kupijakkan kuat kuat untuk menopang tubuhku.

“Cieee… ampuuun…”, aku merintih dan memohon supaya Cie Stefanny menghentikan cucupannya pada liang vaginaku, tapi Cie Stefanny baru mau berhenti setelah cairan cintaku habis dihisapnya.

Aku terduduk lemas di lantai setelah bibir vaginaku terlepas dari hisapan bibir Cie Stefanny. Aku menatap Cie Stefanny dengan sayu dan mesra, dan kalau saja tenagaku belum habis seperti sekarang ini, mungkin aku sudah balik menerkam Cie Stefanny dan bercinta dengannya sepuas hatiku.

“Non, tadi gue belum keluar nih, ayo sekarang sama saya”, kata Wawan yang tiba tiba sudah berdiri di sampingku, lalu ia menggendongku dan membaringkan tubuhku ke ranjang.

“Wan… bentar lagi ya please… aku capek…”, aku memohon pada Wawan.

“Wah gak bisa non, tegangan tinggi nih punya gue”, kata Wawan yang sudah mengangkat kedua betisku dan ditumpangkan ke pundaknya.

“Tapi…”, aku mulai merengek ketika merasakan penis Wawan yang sudah menempel di bibir vaginaku.

“Nggghh…”, aku melenguh tanpa daya ketika Wawan mulai melesakkan penisnya membelah liang vaginaku.

Aku hanya bisa pasrah menerima tusukan penis Wawan pada liang vaginaku, berharap semoga aku tak sampai berkali kali orgasme di tangan Wawan, bisa bisa aku pingsan lagi seperti siang kemarin.

“Em… Wan, kasihan Eliza… kamu sama aku aja”, kudengar suara Cie Stefanny yang terdengar sedikit bergetar.

“Makasih Cie…”, aku memandang Cie Stefanny mesra.

Wawan memandang ke arah Cie Stefanny yang menunduk malu, lalu Wawan kembali memandangku. Aku mengangguk lemas, dan Wawan segera mencabut penisnya dari jepitan liang vaginaku. Cie Stefanny melangkah ragu ke arah kami, dan ketika tubuh Cie Stefanny sudah berada dalam jangkauan Wawan, Cie Stefanny ditarik oleh Wawan ke dalam pelukannya.

“Ooh…”, rintih Cie Stefanny.

Aku bergeser ke kiri, memberikan ruang untuk Cie Stefanny yang kini dibaringkan di sampingku. Wawan yang sudah sangat bernafsu itu segera mengarahkan penisnya ke bibir vagina Cie Stefanny.

“Wan, jangan langsung main tembak gitu dong… sakit tau! Bikin basah dulu kek…”, omelku lemah.

“Siap bos!”, jawab Wawan.

Kini Wawan yang tak jadi melesakkan penisnya ke dalam liang vagina Cie Stefanny, mulai mencumbui Cie Stefanny yang pasrah saja. Rintihan memelas Cie Stefanny terus terdengar, dan mendadak Wawan protes ketika ia sudah akan mencumbui liang vagina Cie Stefanny.

“Non, sudah basah abis gini, masa masih harus dibikin basah?”, tanya Wawan yang seolah meminta persetujuanku untuk segera menggenjot Cie Stefanny.

“Oh…”, Cie Stefanny merintih malu.

“Ya kalau udah basah ya udah Wan”, kataku pelan sambil memandang Cie Stefanny dan tersenyum nakal.

Setelah aku merasa cukup mengumpulkan tenaga, aku segera bangkit meninggalkan ranjangku yang akan segera menjadi arena pertempuran Cie Stefanny melawan Wawan.

“Eliza… kamu kok ninggalin Cie Cie…”, rengek Cie Stefanny.

“Enggak Cie… Eliza cuma mau membersihkan ini kok”, kataku sambil menunjuk selangkanganku yang becek ini dari belakang pantatku.

Cie Stefanny memandangku seperti ingin minta tolong diselamatkan dari perkosaan yang akan menimpa dirinya. Tapi aku cuma tersenyum nakal dan kemudian aku masuk ke kamar mandi. Di dalam sana aku mencuci liang anusku yang basah oleh cairan sperma milik pak Arifin. Aku memutuskan untuk mandi keramas sekalian, badanku rasanya lengket semua akibat keringatku sendiri yang juga bercampur keringat tiga maniak yang akan berpesta tubuh Cie Stefanny itu.

Tentu saja aku juga sekalian mencuci bersih liang vaginaku dengan cairan pembersih vaginaku. Meskipun tadi campuran cairan cairan di dalam sana sudah diseruput habis oleh Cie Stefanny, tetap saja rasanya masih ada yang tertinggal.

Selagi aku menghanduki tubuhku, aku tiba tiba teringat kata kata Cie Stefanny yang kudengar sebelum aku tertidur, yaitu ‘mm… kalau saja tadi itu ada yang merekam waktu Cie Cie bercinta…’ ©kisahbb

Aku menggigit bibir sejenak, gairahku kembali meninggi. Setelah kuhanduki seluruh tubuhku hingga kering, aku keluar dari kamar mandi tanpa terbalut sehelai kainpun alias telanjang bulat.

Aku melihat Cie Stefanny sudah takluk dan pasrah berada dalam gendongan Wawan yang berdiri di samping ranjangku. Wawan yang dengan perkasa menyetubuhi Cie Stefanny dalam gendonganya.

Aku berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti ini, melewati pak Arifin dan Suwito yang aku yakini masih lemas setelah ngeseks denganku. Mereka memang tak berbuat apa apa, hanya memandangi tubuhku dengan penuh nafsu.

Aku tak berniat memakai bra dan celana dalamku, takutnya mereka akan mengajakku ngeseks lagi, yang bisa membuat bra dan celana dalamku jadi lembab lagi oleh keringatku. Aku hanya menyisir rapi rambutku di depan meja riasku. Setelah selesai merapikan rambutku, aku mencari handycam milik kokoku di lemari bawah meja belajarku.

Suara rintihan dan erangan Cie Stefanny yang dibantai oleh Wawan memenuhi kamarku. Aku terus mencari handycam itu sambil menahan gairahku. Begitu kutemukan, aku langsung memeriksa apakah ada isi rekamannya atau tidak. Setelah kupastikan isinya kosong, aku mencoba merekam sembarangan selama kira kira dua puluh atau tiga puluh detik, lalu memutar hasilnya. Lalu rekaman itu kuhapus, dan aku sudah siap untuk merekam adegan panas yang dibintangi Cie Stefanny ini :p

“Eh… Elizaa… kamu kok mmpphh…”, protes Cie Stefanny terhenti karena ia kembali harus berpagut dengan Wawan.

“Kan Cie Cie tadi malam berharap ada yang merekam waktu Cie Cie bercinta…”, kataku menggoda Cie Stefanny.

“Mmpphh… tapi maksud Cie Cie… bercinta sama kamu…”, rengek Cie Stefanny yang kembali berhasil melepaskan bibirnya dari pagutan Wawan.

“Nggak apa apa Cie, sekarang ini Cie Cie keliatan sexy kok”, aku meleletkan lidah dan mulai merekam adegan panas di depanku ini.

“Oooh… ngghh…”, Cie Stefanny merintih dan melenguh ketika Wawan yang perkasa itu terus menggenjot Cie Stefanny sambil berdiri, dan kini Cie Stefanny menyembunyikan wajahnya dari sorotan handycam di tanganku ini dengan cara menyusupkan wajahnya di pundak kanan Wawan.

“Wooo…”, sorakan pak Arifin dan Suwito seolah menyemangati Wawan yang sudah bersimbah peluh, sementara keadaan Cie Stefanny sendiri juga basah kuyup mandi keringat.

Setelah kira kira lima menit, Wawan menurunkan Cie Stefanny dari gendongannya. Lalu Wawan berbaring di ranjang, rupanya Wawan ingin supaya Cie Stefanny melayaninya dengan posisi woman on top.

“Non, ayo naik ke sini”, panggil Wawan pada Cie Stefanny.

Dengan menggigit bibir Cie Stefanny naik ke ranjangku. Ia memandangi penis Wawan yang tegak mengacung, siap membelah dan mengaduk aduk liang vaginanya. Beberapa saat lamanya Cie Stefanny diam seperti ragu hendak melakukan apa. Lalu Cie Stefanny menoleh ke arahku dan menatapku dengan wajah memelas.

“Eliza…”, rengek Cie Stefanny.

“Nggak apa apa Cie, ayo…”, kataku membujuk Cie Stefanny.

Cie Stefanny menghela nafas panjang seperti ingin mengumpulkan kekuatannya, lalu ia menaiki tubuh Wawan. Tapi Cie Stefanny malah diam seperti tak tahu harus berbuat apa. Maka Wawan mengarahkan penisnya hingga kepala penisnya menempel pada bibir vagina Cie Stefanny. Langsung saja Cie Stefanny mendesah, tubuhnya sedikit menggigil.

“Jangan malu malu non, ayo turunin badannya. Tadi non kan juga sudah suka”, ejek Wawan.

Cie Stefanny mulai menurunkan badannya, dan perlahan senti demi senti penis Wawan amblas tertelan dalam liang vagina Cie Stefanny. Aku tak mau melewatkan pemandangan indah ini, kusorot baik baik dengan handycam di tanganku.

“Ngghh.. ngghhh…”, Cie Stefanny melenguh dan menggeliat selama proses menyatunya tubuh Cie Stefanny dengan Wawan.

“Enak ya non?”, tanya Wawan.

“Iyah… oooh…”, rintih Cie Stefanny.

“Kalau enak, goyang dong”, Wawan melanjutkan godaannya pada Cie Stefanny.

Kini aku hampir tak bisa mempercayai pandangan mataku di LCD handycam ini. Cie Stefanny mulai menggoyangkan tubuhnya, mencari kenikmatannya sendiri. Wawan yang terbaring di bawahnya mulai melolong lolong keenakan. Cie Stefanny sendiri sesekali melenguh sambil mulai menggunakan kedua telapak tangannya untuk meremasi kedua payudaranya sendiri.

“Oooh… enak… sempitnya punya non ini…”, racau Wawan.

“Non, sini saya bantu”, kata Suwito yang tiba tiba sudah berlutut di samping Cie Stefanny.

Kini Suwito mulai meremasi payudara Cie Stefanny. Bahkan sesaat berikutnya mereka saling berpagut dengan panas. Aku mengarahkan sorotan kameraku hingga cukup untuk melihat Cie Stefanny dan Suwito yang berciuman sampai bagian selangkangan Cie Stefanny yang ditembusi penis Wawan dari bawah.

“Eh pak Arifin! Ke WC dulu sana, cuci dulu punya pak Arifin! Yang bersih!”, aku setengah membentak ketika melihat pak Arifin tiba tiba lewat di belakang Cie Stefanny dan Suwito yang masih asyik berpagut.

“Oh iya non, maaf”, kata pak Arifin yang langsung minggir dan pergi ke kamar mandiku.

Aku tak ingin pak Arifin dengan penisnya yang pasti kotor dan bau itu membuat Cie Stefanny kehilangan mood untuk menjadi bintang pesta seks di tengah malam ini. Susah payah aku tadi mencoba membangkitkan gairah Cie Stefanny, apalagi kini Cie Stefanny yang di atas ranjangku sudah larut dikeroyok Wawan dan Suwito.

“Mmphh… aaah…”, rintih Cie Stefanny yang langsung mengambil nafas begitu bibirnya terlepas dari pagutan Suwito.

Rintihan Cie Stefanny masih terus terdengar, karena saat ini Suwito sudah menyusu di payudara kanan Cie Stefanny. Dan kini pak Arifin yang bergabung lagi langsung menyusu di payudara kiri Cie Stefanny.

“Oooh… aduuuh…”, Cie Stefanny mulai mengejang di sela rintihannya.

Sorotan handycam ini begitu sempurna merekam orgasme Cie Stefanny. Wajahnya seperti menahan sakit yang amat sangat, mulutnya ternganga dan badannya tersentak sentak. Penderitaan Cie Stefanny makin lengkap karena Wawan yang penisnya pasti masih sangat perkasa itu terus memompa liang vagina Cie Stefanny dari bawah tanpa henti, memaksa Cie Stefanny untuk melenguh lenguh keenakan.

“Ngghhh… eengghh… aaangghh…”, Cie Stefanny terus melenguh tanpa daya dihantam badai orgasme.

Mungkin saat ini Cie Stefanny sedang merasakan multi orgasme. Pandangan matanya redup dan sayu, sementara badannya terus berkelojotan dengan irama yang kacau. Nafas Cie Stefanny tersengal sengal dan dadanya sesekali terhentak.

Melihat keadaan Cie Stefanny, Wawan yang mungkin merasa kasihan menghentikan genjotannya sebentar.

“Ngghh… jangan berhenti…”, rengek Cie Stefanny memelas dan menatap Wawan dengan penuh permohonan sambil terus menggerak gerakkan pinggulnya, sungguh pemandangan yang amat sexy.

“Beres non”, kata Wawan tanggap dan langsung menghentakkan penisnya yang masih menancap di dalam liang vagina Cie Stefanny.

“Oooohh… auuughh… nggghhh”, Cie Stefanny kembali melenguh dan menggeliat sejadi jadinya.

Keringat Cie Stefanny membanjir deras ketika orgasmenya kembali memuncak. Tubuhnya yang indah itu melengkung sexy, kelihatannya Cie Stefanny tak kuasa menahan kenikmatan yang pasti sedang menjalari sekujur tubuhnya. Pagutan pak Arifin pada puting payudara Cie Stefanny sampai terlepas ketika tadi Cie Stefanny menggeliat hebat.

Melihat hal itu, ku bermaksud memberikan isyarat kepada pak Arifin, dengan membuka mulutku sedikit dan menggerakkan tangan kiriku menirukan gaya mengoral penis sambil menatap pak Arifin, yang kelihatannya langsung mengerti maksudku dan segera berdiri di samping kiri Cie Stefanny.

“Cie… sebelah kiri Cie”, aku memberikan ‘instruksi’ pada Cie Stefanny yang masih memejamkan matanya menikmati orgasmenya.

Cie Stefanny membuka matanya perlahan dan menolehkan kepalanya ke kiri. Ia sempat tertegun sejenak melihat penis pak Arifin yang mengacung tegang di depan matanya.

“Non, ayo pegang”, perintah pak Arifin.

Cie Stefanny menggigit bibirnya, lalu perlahan tangan kirinya bergerak meraih penis pak Arifin dan menggenggamnya. Jantungku berdebar kencang melihat Cie Stefanny yang pasrah melayani mereka.

Kini dengan tubuh yang terlonjak pelan karena liang vaginanya kembali dipompa oleh penis Wawan dari bawah, tangan Cie Stefanny yang mungil itu melakukan gerakan maju mundur untuk mengocok penis pak Arifin.

“Yaa… terus noon…”, racau pak Arifin keenakan.

Cie Stefanny terus menatap penis itu. Aku menyorot wajah Cie Stefanny memelas sexy dan menggairahkan itu, dan lagi lagi aku nyaris tak percaya dengan pandangan mataku ketika tiba tiba Cie Stefanny menurunkan tangannya, dan tanpa diminta Cie Stefanny memajukan kepalanya hingga bibir Cie Stefanny tepat bersentuhan dengan kepala penis pak Arifin. Tanpa ampun pak Arifin langsung memegang kepala Cie Stefanny dan dengan cepat ia mulai memaksakan penisnya melesak masuk ke dalam mulut mungil milik Cie Stefanny.

Cie Stefanny pasrah saja dan membuka mulutnya untuk mengulum penis pak Arifin. Tangan kiri Cie Stefanny memegang sisa penis pak Arifin yang tak muat di dalam mulut mungil Cie Stefanny, sedangkan tangan kanan Cie Stefanny memeluk dan meremasi rambut di kepala Suwito yang masih asyik menyusu di payudara kanan Cie Stefanny.

Dan kini Wawan juga menggerakkan tangan kanannya untuk meraih dan meremasi payudara kiri Cie Stefanny. Maka lengkaplah penderitaan Cie Stefanny, tanpa daya dikeroyok oleh sopir dan kedua pembantuku yang perkasa dalam urusan seks ini.

“Empphh… mmmhh…”, Cie Stefanny merintih tak jelas karena mulutnya tersumpal penis pak Arifin.

Adegan panas di depanku ini kurekam dengan baik, celakanya aku sendiri sebenarnya juga kembali terbakar gairah. Tapi aku tak ingin gagal mendapatkan rekaman adegan demi adegan panas ini dan aku berusaha menahan keinginanku untuk bermasturbasi dengan mencelupkan jari tangan kiriku yang masih mengganggur ini ke dalam liang vaginaku. Aku takut peganganku pada handycam akan kacau dan membuat hasil rekaman ini jadi buruk.

“Aaah… sepongan non enak sekalii…”, racau pak Arifin memuji servis oral Cie Stefanny.

Cie Stefanny hanya mengguman tak jelas, dan tiba tiba pak Arifin menarik lepas penisnya dari mulut Cie Stefanny. Lalu pak Arifin yang menyuruh Suwito melepaskan pagutannya pada puting payudara Cie Stefanny, mengambil posisi di belakang Cie Stefanny, dan mendorong tubuh Cie Stefanny hingga telungkup menindih tubuh Wawan.

“Ohh… pak… jangan di sana… ngghhh…”, Cie Stefanny tak dapat melanjutkan protesnya karena Wawan menghunjamkan penisnya dalam dalam mengaduk liang vagina Cie Stefanny.

Suwito langsung mengambil posisi di depan kepala Cie Stefanny yang tertunduk pasrah. Aku jadi kewalahan merekam semua adegan ini, maka aku sedikit mundur untuk dapat merekam itu semua. Pak Arifin sudah mulai menempelkan penisnya yang basah oleh air ludah Cie Stefanny itu, ke belakang selangkangan Cie Stefanny. ©kisahbb

Cie Stefanny mendongak dengan wajah yang menampakkan kekuatiran, tapi akibatnya kepalanya langsung dipegang oleh Suwito, dan penis Suwito yang sudah mengacung itu menempel di bibir Cie Stefanny.

“Aaaah… mmmppph…”, tepat ketika pak Arifin mulai melesakkan penisnya ke dalam liang anus Cie Stefanny, dengan keras Cie Stefanny merintih, tapi rintihannya langsung teredam karena Suwito memanfaatkan kesempatan itu untuk melesakkan penisnya masuk ke dalam mulut mungil Cie Stefanny.

“Mmmppph…”, Cie Stefanny terus merintih panjang tak jelas, dan aku mengambil gambar handycam dari belakang, menyorot detail situasi yang terjadi di selangkangan Cie Stefanny.

Liang vagina Cie Stefanny jelas penuh oleh penis Wawan yang menancap dalam. Dan perlahan liang anus Cie Stefanny terbelah oleh penis pak Arifin yang terus melesak masuk. Aku bisa membayangkan betapa sesaknya sekarang selangkangan Cie Stefanny sekarang ini.

Cie Stefanny mulai meronta, sepertinya Cie Stefanny kesakitan merasakan liang anusnya diperawani oleh penis pak Arifin yang termasuk berukuran raksasa itu.

Wawan memeluk erat tubuh Cie Stefanny hingga Cie Stefanny tak akan bisa ke mana mana, dan penis pak Arifin menancap makin dalam pada liang anus Cie Stefanny. Tak ada yang bisa dilakukan Cie Stefanny selain merintih.

Kini tiga liang kenikmatan Cie Stefanny sudah terisi penuh. Mereka bertiga segera mulai menyiksa Cie Stefanny. Gerakan gerakan menghentak dari tubuh pak Arifin dan Wawan membuat penis mereka keluar masuk bergantian dengan cepat, mengaduk liang vagina dan liang anus Cie Stefanny. Erangan dan rintihan tertahan Cie Stefanny kelihatannya malah membangkitkan gairah mereka berdua yang terus menghajar selangkangan Cie Stefanny ini.

Aku sempat menyorot sekilas ke arah wajah Suwito yang merem melek keenakan mendapatkan servis oral dari Cie Stefanny. Suwito masih menyempatkan meremasi rambut indah Cie Stefanny. Tapi aku langsung kembali menyorot pemandangan indah di depanku ini, dua penis yang bergantian melesak masuk mengaduk aduk dua liang kenikmatan Cie Stefanny.

“Oooh… huooooh…”, pak Arifin melolong panjang dan aku melihat sperma meleleh keluar di sela sela liang anus Cie Stefanny yang tertancap penis pak Arifin.

Eh, cepat juga pak Arifin berejakulasi. Dan kulihat tubuh Cie Stefanny bergetar, entah karena kesakitan atau karena kenikmatan. Pak Arifin menarik lepas penisnya dari jepitan liang anus Cie Stefanny, tapi aku masih terus menyorotkan handycam ini ke arah selangkangan Cie Stefanny karena aku tak ingin melewatkan pemandangan yang indah ini. Sperma pak Arifin terus meleleh keluar dari lubang anus Cie Stefanny, walaupun tidak terlalu banyak, dan liang vagina Cie Stefanny masih terus dipompa oleh Wawan.

“Mmmhhh… mmmhhhh…”, Cie Stefanny merintih panjang dan tubuhnya kembali berkelojotan dengan liarnya, entahlah mungkin karena ia mendapatkan orgasmenya lagi. ©kisahbb

Aku mengalihkan sorotan handycamku dari pinggir, hingga aku mendapatkan rekaman sempurna saat tubuh Cie Stefanny menggelepar dalam pelukan Wawan. Kedua betis Cie Stefanny melejang lejang, sementara kedua tangan Cie Stefanny terentang mencengkram sprei ranjangku. Sungguh indah pemandangan yang ada di depanku ini, dan aku senang sekali bisa merekam semua ini dalam handycam yang kupegang ini.

“Oooh… noon… huoooohh…”, erang Wawan yang mempercepat genjotannya pada Cie Stefanny.

Aku cepat kembali menyorot selangkangan Cie Stefanny. Tepat sekali, Wawan memang akan berejakulasi, dan aku beruntung mendapatkan adegan dimana penis Wawan menancap dalam dalam, sementara tubuh Cie Stefanny terlihat mengejang beberapa kali. Lalu perlahan sperma Wawan sedikit meleleh keluar dari liang vagina Cie Stefanny yang masih tertancap penis Wawan.

“Oooh… enaknyaaa…”, racau Wawan, yang kemudian melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Cie Stefanny hingga terbaring ke sampingnya, dan sisa sperma di vagina Cie Stefanny yang sempat menyembur kecil itu membasahi paha Cie Stefanny.

Suwito yang penisnya terlepas dari jepitan mulut mungil Cie Stefanny, kini ganti mengambil posisi di depan selangkangan Cie Stefanny. Lalu dengan posisi standar, Suwito mulai menyetubuhi Cie Stefanny yang masih tergolek lemas.

Sayangnya aku tak sempat merekam dengan detail proses masuknya penis Suwito ke dalam liang vagina Cie Stefanny. Aku hanya merekam sekilas bagaimana Suwito menggagahi Cie Stefanny, lalu aku merekam dari belakang Suwito, menyorot ke arah Cie Stefanny yang terbaring pasrah.

“Arrghh… enak gilaaa…”, Tak sampai dua tiga menit, Suwito sudah berkelojotan sambil meracau.

Aku langsung menyorot selangkangan Cie Stefanny, menangkap saat saat melelehnya sperma Suwito dari liang vagina Cie Stefanny yang masih tertancap penis Suwito itu. Begitu Suwito menarik lepas penisnya, sperma dalam jumlah yang cukup banyak menyembur keluar dari liang vagina Cie Stefanny yang warnanya main memerah. Aku menyorot semua itu dengan detail, dan kali ini aku sudah tak mampu menahan gairahku lagi.

“Suwito, pegang handycam ini. Ya, seperti ini. Pokoknya kamu jangan sorot ke arah lain ya, tetap sorot ke arah ini”, kataku pada Suwito dan menunjukkan padanya di LCD handycam ini, yang memuat sorotan ke liang vagina Cie Stefanny.

“Siap bos”, kata Suwito sok mengerti, aku hanya bisa berharap dia tak melakukan kesalahan.

Dan begitu Suwito memegang handycamku, aku langsung memburu liang vagina Cie Stefanny.

“Eh… Elizaaa…”, rintih Cie Stefanny ketika aku mencucup bibir vaginanya yang masih belepotan cairan cairan itu.

Aku terus mencucup dengan penuh gairah, dan semua campuran cairan cinta Cie Stefanny, sperma Suwito dan sperma Wawan itu kuseruput habis. Tanpa ampun lagi Cie Stefanny menggelinjang dan mengejang hebat dilanda orgasmenya. Aku terus menelan semua cairan cairan itu, dan aku baru berhenti mencucup bibir vagina Cie Stefanny setelah tak ada lagi yang bisa kuseruput.

Lalu aku langsung menindih Cie Stefanny, dan memagut bibirnya sejadi jadinya, tanpa perduli keringat Cie Stefanny menempel di tubuhku yang tadinya sudah kumandikan sampai bersih.

Aku berharap Suwito cukup cerdas untuk merekam adegan ini, dan ketika aku melihat dari samping Suwito memang sedang merekam kami, aku makin ganas memagut bibir Cie Stefanny yang juga balas memagut bibirku. Kami bahkan sampai duduk dan terus berpagut mesra, dan baru berhenti setelah kami sama sama kehabisan nafas.

“Oooh… sudah sayang… Cie Cie capek…”, Cie Stefanny merengek dengan wajahnya memelas dan ia langsung berbaring di atas ranjangku.

“Iya Cie, sudah selesai kok…”, jawabku dengan pelan, aku sendiri juga kecapaian dan ingin tidur saja, tapi aku masih harus mengganti sprei ini, juga mandi bersama Cie Stefanny yang basah oleh campuran keringatnya sendiri dan keringat tiga maniak tadi.

“Sini Suwito, handycamnya”, aku memanggil Suwito meminta handycam yang masih menyorot ke arah kami berdua ini.

Suwito memberikan kameraku dan langsung duduk lemas. Aku langsung mematikan rekaman ini, dan mencoba melakukan replay untuk melihat hasilnya. Yah, tak bisa dibilang sempurna, rasanya caraku mengambil gambar masih terlalu kaku, namun adegan adegan itu terasa natural. Kulihat durasi rekaman ini sekitar 25 menit.

“Udah, kalian kembali ke kamar kalian sana”, usirku ketus.

“Yah non, galak amat. Boleh kan kami temani non tidur?”, tanya Wawan

“Tidak. Besok aku ada ulangan tau! Kalau kalian tidur di sini, bisa bisa nanti aku masih enak enak tidur kalian paksa ngeseks lagi. Lagian ranjangku kan nggak cukup buat ditidurin berlima. Pokoknya nggak boleh!”, aku mulai mengomel.

“Kalau gitu non Stepani boleh kami bawa ke kamar kami non?”, tanya pak Arifin.

“Tidak boleh!! Cie Stefanny ini tamuku ya, jangan macam macam! Udah ayo kalian keluar sana!!”, jawabku tegas.

Akhirnya mereka semua keluar tanpa banyak rewel. Mereka keluar dari jendela yang mereka bobol ketika masuk ke kamarku ini untuk memperkosa kami berdua sampai terbangun dari tidur. Aku sampai teringat tadi itu aku mendapat mimpi yang begitu mengerikan, diperkosa dan dilecehkan oleh Andi di sekolah.

Sejenak jantungku berdebar cukup kencang, dan sekali lagi aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi itu semua hanyalah mimpi. Aku melihat lagi ke arah jam digitalku, dan aku menarik nafas lega melihat hari ini adalah hari Jumat jam 02:00, pagi.


Aku menguatkan diri untuk bangkit, lalu aku mengunci jendela kamarku ini. Lalu aku berbalik badan dan bersandar sejenak sambil menatap Cie Stefanny.

“Cie… ayo mandi sama Eliza”, aku mengajak Cie Stefanny bersama sama membersihkan tubuh kami yang sama sama lengket ini tak karuan ini.

“Iya sayang, sebentar ya, Cie Cie masih lemas”, kata Cie Stefanny pelan.

Aku melihat jam, sekarang jam dua pagi. Duh, mana besok aku ulangan lagi. Tapi jujur saja aku tak menyesal terseret dalam pesta seks di tengah malam ini, dan lagipula seperti yang dikatakan Cie Stefanny, aku sudah cukup belajar untuk ulangan besok.

Kini aku duduk di kursi meja belajarku, dan membuka laptopku. Aku mentransfer hasil rekaman handycam ini ke dalam laptopku, lalu aku memastikan tak ada sisa rekaman Cie Stefanny yang jadi korban pesta seks tiga maniak tadi di dalam handycam ini. Sungguh tidak lucu kalau rekaman itu terlihat oleh kokoku.

“Sayang… kamu lagi ngapain?”, tanya Cie Stefanny yang tiba tiba sudah memeluk tubuhku dari belakang.

“Pindahin film ini ke laptop Eliza, terus hapus rekaman tadi di handycam Cie”, kataku sambil mengecek ulang isi handycam ini.

“Kamu jahat, masa Cie Cie kamu jadikan bintang film porno…”, Cie Stefanny merajuk walaupun masih tetap memeluk tubuhku.

“Kan cuma buat kita berdua aja kok Cie. Eliza janji nggak akan sebarin film ini, Eliza kan sayang Cie Cie”, kataku sambil menolehkan wajahku ke arah belakang hingga berhadapan dengan wajah Cie Stefanny, lalu bibir yang mungil itu kucium dengan mesra.

“Mmmhh…”, rintih Cie Stefanny yang langsung membalas ciumanku.

“Janji ya sayang, cuma kita berdua. Kokomu jangan sampai tahu…”, kata Cie Stefanny dengan nada memohon.

“Iya, Eliza janji. Tapi… yeee, kok takut ketahuan kokoku, kenapa hayoo…”, sifat usilku kumat dan aku langsung menggoda Cie Stefanny

“Ahh…”, Cie Stefanny menggigit bibirnya, mukanya mendadak memerah.

“Tenang Cie, Eliza pasti jaga rahasia ini dari koko, asal Cie Cie besook…”, aku sengaja berlambat lambat melanjutkan kata kataku dan menatap Cie Stefanny dengan pandangan menggoda.

“Duh… kamu jahat…”, Cie Stefanny merengek, rona mukanya semakin memerah.

“Enggak Cie, Eliza cuma godain Cie Stefanny kok. Eliza… Dari sejak Eliza tahu kalau Cie Cie udah putus sama ko Melvin, Eliza justru senang kalau Cie Cie mau kenalan sama koko, terus…”, aku tak melanjutkan kata kataku dan memeluk Cie Stefanny dengan penuh rasa sayang.

“Eliza… kalau kamu berpikir seperti itu… kenapa tadi kamu serahkan Cie Cie ke pembantu pembantu kamu… pakai kamu rekam segala…”, kata Cie Stefanny yang tiba tiba tubuhnya menggigil, tak kusangka Cie Stefanny menangis.

“Cie… maafkan Eliza, tadi Eliza cuma ingin Cie Cie bersenang senang. Eliza kan udah janji kalau film tadi itu jadi rahasia kita berdua saja. Cie, it’s just sex, not love”, aku sedikit tegang dan mencoba menenangkan pikiran Cie Stefanny.

“Eliza… Cie Cie ini udah nggak virgin… ditambah dengan tadi itu, apa sekarang Cie Cie ini masih layak untuk…”, kata kata Cie Stefanny langsung kuhentikan dengan menempelkan jari telunjukku ke bibir Cie Stefanny.

“Cie… kalau koko dan yang lain nggak tahu, Cie Cie nggak usah berpikiran aneh aneh. Eliza sayang Cie Cie, dan Eliza yakin koko itu juga suka sama Cie Cie. Papa dan mama juga suka sama Cie Cie”, kataku sambil terus memeluk Cie Stefanny dan menaruh kepalaku di pundak kanannya.

“Eliza pasti bantuin Cie Cie, kalau Cie Cie juga suka sama kokoku”, aku berkata sungguh sungguh sambil memejamkan mataku.

“Makasih sayang…”, guman Cie Stefanny yang diam dalam pelukanku.

“Cie… kita mandi yuk”, aku kembali mengajak Cie Stefanny membersihkan badan kami yang masih belepotan keringat ini.

Cie Stefanny mengangguk dan kami berdua segera menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, kami mandi keramas dan saling membersihkan badan kami, yang tentu saja diselingi kenakalan kenakalan kecil kami seperti saling mencubit puting payudara kami, bahkan sesekali kami saling mencelupkan jari ke vagina kami berdua dan tanpa ampun lagi kami saling memagut bibir dengan mesra.

Tak lupa aku mengambil cairan pembersih vagina yang biasa kupakai, dan jantungku berdegup kencang karena membayangkan saat saat aku menggunakan cairan itu untuk membersihkan liang vagina Cie Stefanny.

“Ssshhh… mmmhhh…”, rintih Cie Stefanny ketika aku mencelupkan jariku yang sudah kuolesi cairan pengharum vagina milikku ini ke dalam liang vagina Cie Stefanny.

Sebenarnya kalau menuruti hawa nafsu birahiku yang kini sudah kembali bergejolak, ingin rasanya aku mengaduk aduk liang vagina Cie Stefanny, dan kembali mengajak Cie Stefanny bercinta atau kalau perlu aku memperkosa Cie Stefanny. Tapi aku sadar ini sudah terlalu malam, aku harus segera tidur karena besok sekolahku tidak libur, belum lagi besok itu aku harus mengikuti ulangan bahasa Inggris pada jam pertama.

Selain itu, aku sadar kalau aku harus memberikan kesempatan pada tubuhku untuk beristirahat, demikian juga dengan tubuh Cie Stefanny. Kami berdua baru saja jadi obyek pesta seks, apalagi aku yang dalam 20 jam ini harus ngeseks dengan banyak orang, rasanya vaginaku seperti bengkak saja. Maka aku hanya diam menahan gejolak birahi ini.

“Sayang, sekarang kita pakai bra dan celana dalam ya?”, tanya Cie Stefanny ragu.

“Mmm… iya deh Cie”, jawabku.

Kami berdua saling menghanduki tubuh kami, dan tanpa rasa canggung kami saling memakaikan bra hingga payudara kami terbungkus rapi dalam bra kami masing masing. Dan setelah sama sama memakai celana dalam, kami diam sejenak dan saling pandang.

“Cie, gini aja ya, nggak usah pakai baju”, kataku.

“Duh sayang, nanti kita keterusan lagi deh”, rengek Cie Stefanny.

“Mmm…”, aku berpikir sejenak.

“Nanti aja dipikir Cie, sekarang kita ganti sprei dulu yuk”, kataku lagi.

Kami berdua mengganti sprei ranjangku yang penuh dengan bekas keringat, bahkan ada bercak bercak tetesan sperma entah milik siapa. Bed cover ranjangku juga harus diganti, dan kami sama sama melipat sprei dan bed cover ini sekedarnya, lalu semuanya kuletakkan di dalam keranjang baju kotor. Aku mengambil sprei dan bed cover dari lemari, lalu kami berdua memasang sprei ini di ranjangku.

Bau harum langsung memenuhi ruangan ini. Aku membayangkan tidur ranjangku yang nyaman, dalam pelukan Cie Stefanny, tanpa mengenakan baju. Maka aku tak bertanya lagi, dan tanpa peringatan aku langsung berlari mendekati Cie Stefanny, lalu menerkamnya hingga kami berdua jatuh ke ranjangku.

“Elizaa… ampun sayang… Cie Cie capeek…”, rengek Cie Stefanny.

“Nggak kok Cie, Eliza bukan mau mengajak Cie Cie bercinta lagi… Eliza cuma ingin malam ini kita tidur nggak pakai baju aja”, kataku manja.

“Duh anak nakal… iya iya Cie Cie nggak pakai baju”, kata Cie Stefanny yang pura pura merajuk.

Aku tertawa geli, dan bed cover itu langsung kuselimutkan membungkus tubuh kami berdua. Di dalam bed cover ini kami berdua saling peluk dengan mesra layaknya sepasang kekasih. Sesekali bibir kami saling berpagut mesra, walaupun kami berdua sudah sama sama sangat mengantuk. Aku sangat menikmati saat saat tidur dalam pelukan Cie Stefanny seperti ini.

Aku tahu kegilaan kami kali tadi ini bukanlah kegilaan kami yang terakhir. Entah apa yang kelak akan kami berdua lakukan bersama, yang jelas aku tahu aku pasti akan sangat menikmatinya, bercinta dengan Cie Stefanny, calon kakak iparku. Dan kini aku berharap bisa tidur dengan pulas sampai nanti wekerku berbunyi.

No comments:

Post a Comment